
Eksekusi dan kekerasan seksual di El Fasher, Sudan, terus berlanjut

Para pengungsi duduk di bawah tenda-tenda yang dibangun dari kayu dan kain di Tawila, Darfur Utara, Sudan, pada 8 Agustus 2025. (Xinhua/Program Pangan Dunia PBB)
Eksekusi dan kekerasan seksual terhadap warga sipil dilaporkan terus berlanjut di Kota El Fasher, Sudan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari sepekan setelah pengambilalihan Kota El Fasher di Sudan oleh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF), eksekusi singkat dan kekerasan seksual terhadap warga sipil dilaporkan terus berlanjut, kata petugas kemanusiaan PBB pada Senin (3/11).Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerima laporan yang dapat dipercaya tentang kejahatan terhadap warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, dari dalam ibu kota negara bagian Darfur Utara yang diblokade."Ratusan warga sipil, termasuk pekerja kemanusiaan, dilaporkan tewas, sementara banyak yang masih terjebak di dalam kota dengan sedikit atau tanpa komunikasi dengan dunia luar," kata OCHA. "Pengiriman bantuan yang menyelamatkan jiwa masih diblokir oleh RSF, bertentangan dengan kewajibannya berdasarkan hukum humaniter internasional untuk memfasilitasi penyaluran bantuan tersebut secara cepat dan tanpa hambatan."Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration/IOM) melaporkan bahwa hampir 71.000 orang telah meninggalkan El Fasher dan daerah sekitarnya sejak jatuhnya kota itu pada 26 Oktober, sebagian besar ke kamp-kamp yang penuh sesak di Kota Tawila, 40 kilometer jauhnya, sementara banyak pengungsi yang baru datang melaporkan pembunuhan, penculikan, dan kekerasan seksual di sepanjang jalan.Kondisi di Tawila sangat memprihatinkan. Banyak keluarga yang terpaksa tinggal di tempat terbuka atau di tempat penampungan sementara, persediaan makanan menipis, dan air bersih langka, kata OCHA. "PBB dan mitranya menyediakan bantuan darurat, termasuk makanan sehari-hari, layanan kesehatan, air, sanitasi, nutrisi, dan dukungan psikososial, tetapi upaya ini hanya memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan yang ada mengingat keterbatasan dana."Kekerasan di wilayah Kordofan juga meningkat tajam, memicu pengungsian besar-besaran dan penderitaan warga sipil, kata kantor tersebut, seraya mencatat bahwa pelanggaran berat, termasuk dugaan eksekusi cepat terhadap warga sipil, telah dilaporkan di wilayah Bara, Kordofan Utara.IOM menyatakan bahwa antara 26 hingga 31 Oktober, sekitar 37.000 orang mengungsi dari Bara, Um Rawaba, dan desa-desa sekitarnya. Warga sipil menghadapi peningkatan ketidakamanan, kekurangan pangan, dan kerusakan infrastruktur dasar.Dengan hanya dua bulan tersisa di tahun ini, rencana bantuan kemanusiaan 2025 untuk Sudan hanya didanai sebesar 28 persen, dengan 1,17 miliar dolar AS yang diterima dari 4,16 miliar dolar AS yang dibutuhkan, kata OCHA, yang menyerukan pendanaan mendesak dan fleksibel untuk mendukung jutaan orang yang terjebak dalam konflik Sudan.*1 dolar AS = 16.625 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Organisasi media China dan Arab luncurkan inisiatif pererat pertukaran dan kerja sama
Indonesia
•
08 Dec 2022

Korban tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 tembus 50.000 jiwa
Indonesia
•
24 Mar 2025

COVID-19 – Badan medis tertinggi Australia tolak pencabutan masa isolasi wajib
Indonesia
•
08 Oct 2022

Ahli bedah Dubai angkat 200 batu ginjal dari pasien setelah 4 tahun menderita
Indonesia
•
30 Jun 2022


Berita Terbaru

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026

Feature – Mengenal yoga 'Made in Indonesia' yang sarat filosofi Jawa
Indonesia
•
15 Jun 2026

Feature – Piala Dunia hadirkan kegembiraan dan momen kebersamaan di Damaskus, Suriah
Indonesia
•
15 Jun 2026
