
Ekonom sebut konflik Timur Tengah akan dorong kenaikan harga energi di seluruh Eropa

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 3 Maret 2015 ini menunjukkan bagian dari sistem jalur pipa gas di Ungheni, sekitar 105 km sebelah barat Chisinau, Moldova. (Xinhua/MOLDPRES)
Konflik di Timur Tengah akan menyebabkan peningkatan harga bahan bakar dan gas di seluruh Eropa, yang berujung pada inflasi yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Riga, Latvia (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik di Timur Tengah akan menyebabkan peningkatan harga bahan bakar dan gas di seluruh Eropa, yang berujung pada inflasi yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya, urai Liva Zorgenfreija, kepala ekonom Swedbank di Latvia, dalam sebuah sesi wawancara pada Senin (2/3).
Zorgenfreija mengatakan kepada kantor berita LETA bahwa berbagai peristiwa di Timur Tengah sekali lagi menyoroti salah satu risiko klasik ekonomi global, yakni gangguan rantai pasokan sumber daya energi.
Dia menyatakan bahwa eskalasi konflik, termasuk serangan terhadap Iran dan infrastruktur minyak negara itu, penghentian sementara pelayaran yang melintasi Selat Hormuz, dan kenaikan biaya asuransi kapal, telah memicu reaksi harga yang tajam di pasar.
Sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui Selat Hormuz. Media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran telah menutup selat itu untuk pelayaran, dan menyatakan jalur air tersebut tidak aman akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Seiring meningkatnya ketegangan regional, lalu lintas kapal melalui selat tersebut telah menurun signifikan sejak Sabtu (28/2), menurut beberapa sumber yang memantau data pelacakan kapal.
Zorgenfreija menguraikan konflik tersebut menyebabkan harga energi yang lebih tinggi di seluruh dunia, termasuk di Latvia, dan dalam skenario terburuk, harga minyak Brent dapat menembus 100 dolar AS per barel, sementara harga gas berpotensi meningkat dua kali lipat.
*1 dolar AS = 16.7791 rupiah
Kenaikan harga energi bergantung pada berapa lama konflik itu akan berlangsung, berapa lama penghentian sementara pelayaran yang melintasi Selat Hormuz akan diberlakukan, serta sejauh mana produksi minyak dan gas akan terganggu atau infrastruktur mengalami kerusakan, paparnya.
Dia menambahkan bahwa bagi Eropa dan Latvia, situasi semacam itu berarti kenaikan harga sumber daya energi secara langsung dan cepat, yang memberikan tekanan pada pengeluaran rumah tangga dan biaya bisnis.
Selain itu, dampak sekunder akan terasa melalui harga barang dan jasa lainnya, yang mengakibatkan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, ujar Zorgenfreija.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Maskapai Ethiopian Airlines tangguhkan penerbangan ke Beirut dan Tel Aviv
Indonesia
•
08 Oct 2024

China butuh pasar modal terbuka agar yuan jadi mata uang global
Indonesia
•
27 Apr 2022

Wabah virus Marburg yang sangat menular menyebar di Ghana
Indonesia
•
18 Jul 2022

Dirjen WHO desak Israel cabut perintah evakuasi di Beirut
Indonesia
•
10 Apr 2026


Berita Terbaru

Houthi klaim targetkan tiga kapal tanker Arab Saudi dalam 48 Jam, ketegangan Laut Merah memanas
Indonesia
•
27 Jul 2026

Otoritas Gaza: Dua pejabat keamanan Hamas tewas akibat serangan udara Israel
Indonesia
•
27 Jul 2026

Empat tentara AS tewas, data Pentagon gambarkan meningkatnya dampak konflik dengan Iran
Indonesia
•
27 Jul 2026

Prancis dilanda karhutla terburuk 2026, hampir 100.000 hektare lahan hangus
Indonesia
•
26 Jul 2026
