Di bawah langit Makkah, seorang ibu berserah: Catatan pembimbing ibadah

Foto bertanggal 18 Juli 20218 ini menunjukkan Ka'bah yang suci di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Indonesia Window)

Jeddah-Makkah, pertengahan 2017

***

Ada orang-orang yang datang ke Ka'bah dengan membawa setumpuk doa.

Ada yang minta sembuh dari sakit, mengemis rezeki, atau memohon keturunan, bahkan mungkin berharap jabatan.

Sore itu saya melihat seorang ibu datang membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada semua itu. Dia membawa bayangan dari akhir perjalanan hidupnya.

***

Perjalanan dari Jeddah menuju Makkah cukup singkat, sekitar 1 jam. Namun kali itu terasa jauh lebih lama karena hampir tidak ada percakapan sepanjang mobil yang kami tumpangi membelah gurun di antara kedua kota tersebut.

Matahari masih menggantung rendah ketika mobil meninggalkan Jeddah. Cahaya keemasannya memantul pada kaca jendela, lalu jatuh di atas jemari seorang ibu yang tak pernah berhenti saling menggenggam.

Di sebelahnya, seorang lelaki belia beberapa kali menarik napas panjang, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih menyimpannya di bawah gumuk-gumuk padang gurun yang membentang di luar sana.

Tak satu pun dari keduanya berbicara. Hanya talbiyah yang terus mengalun, lirih namun tak putus-putus.

"Labbaikallahumma labbaik..."

Saya ikut melafalkannya. Di dalam mobil itu, kalimat talbiyah terasa berbeda. Ia bukan sekadar bacaan yang mengiringi perjalanan menuju Tanah Suci. Ia seperti pegangan terakhir yang sedang dicengkeram oleh tiga orang yang sama-sama berusaha menenangkan hati, ibu dan pemuda itu, dan saya yang ditugaskan oleh negara untuk membimbing ibadah haji kecil mereka.

Sudah bertahun-tahun saya mendampingi warga negara Indonesia di Arab Saudi. Saya pernah membimbing umrah rombongan pejabat, diplomat, pengusaha, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Biasanya, perjalanan bersama mereka diwarnai diskusi fikih kontemporer yang dinamis. 

Yang ini jauh … jauh berbeda. Perjalanan yang saya jalani bersama ibu paruh baya dan putranya itu penuh senyap, namun menyisakan catatan dengan tinta tebal dalam ingatan saya.

Perempuan itu adalah seorang Pekerja Migran Indonesia. Dia sedang menghadapi ujian hukum yang sangat berat di Arab Saudi: qishash.

Pemuda di sampingnya adalah putranya—satu-satunya darah daging yang datang jauh dari Tanah Air untuk menemaninya beribadah.

Saya paham betul, perjalanan menuju Makkah sore itu bukan sekadar perjalanan menuju Ka'bah. Mereka sedang berjalan menuju tempat terakhir untuk menggantungkan seluruh harapan.

Mobil terus melaju.

Di luar jendela, gurun membentang tanpa batas. Di dalam mobil, keheningan terasa lebih luas daripada padang pasir itu sendiri.

Saya memilih tidak banyak berucap.

Ada kesedihan yang lebih pantas ditemani daripada diusik dengan kata-kata.

Talbiyah kembali memenuhi kabin mobil.

"Labbaikallahumma labbaik..."

Sesampainya di Masjidil Haram, langkah kami melambat. Lautan manusia berbagai rupa dan warna kulit mengalir ke segala arah, tetapi perempuan itu berjalan pelan, seolah setiap langkahnya memikul beban yang tidak terlihat. Anak laki-lakinya tetap berada di sisi kirinya. Tanpa banyak bicara, dia beberapa kali memastikan ibunya tidak terpisah oleh arus jamaah.

Lalu tibalah kami di pelataran Ka'bah.

Tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan apa yang terjadi pada wajah mereka saat itu.

Perempuan itu berhenti melangkah.

Tatapannya terpaku ke arah Baitullah.

Beberapa saat dia hanya berdiri diam.

Matanya mulai basah.

Sang anak tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di samping ibunya, membiarkan perempuan yang telah melahirkannya itu larut dalam perjumpaan yang mungkin telah lama dia rindukan.

Saya tidak mengganggu keheningan itu.

Ada saat-saat ketika tugas seorang pembimbing lebih baik tidak memberi arahan apa pun, melainkan memberi ruang dan meringankan hati mereka yang terimpit beban hidup.

Ketika kami memulai tawaf dari Hajar Aswad, saya menyadari bahwa bibir mereka nyaris tak bergerak. Bukan karena tidak ingin berdoa, melainkan mungkin karena hati mereka terlalu sesak.

Saya pun mengeraskan suara doa agar mereka dapat mendengarnya di tengah ribuan manusia yang mengelilingi Ka'bah.

"Kalau belum hafal, cukup aminkan saja," kata saya pelan.

Sejak putaran pertama hingga putaran ketujuh, yang paling sering saya dengar bukanlah doa saya sendiri.

Melainkan jawaban lirih dari dua suara yang bergetar.

"Aamiin..."

Suara itu lirih.

Namun setiap kali terdengar, rasanya seperti membawa seluruh beban hidup mereka ikut terangkat ke langit.

Di beberapa tempat yang diyakini sebagai titik mustajab, saya sengaja memperlambat langkah. Doa saya panjangkan. Bukan karena ibadah harus dibuat lama, melainkan karena saya merasa mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk bercakap-cakap dengan Tuhan mereka Sang Maha Kuasa ﷻ daripada kepada siapa pun di semesta ini.

Selesai salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, kami melanjutkan perjalanan menuju Shafa.

Di sepanjang sa'i antara Shafa dan Marwah, tidak banyak yang berubah.

Langkah mereka tetap pelan.

Dzikir berganti menjadi doa.

Perempuan itu perlahan menyapu air mata yang mengalir wajahnya. Di sampingnya, si anak terus berjalan dalam diam, sesekali melempar pandang untuk memastikan sang ibu tetap kuat menapaki setiap langkah.

Tidak ada pelukan. Tidak ada tangisan yang pecah.

Tenang yang terlihat, tapi itulah yang terasa paling menggetarkan.

Setelah tahallul selesai, kami kembali menengadahkan tangan.

Langit Makkah mulai berubah warna. Semburat jingga berubah semakin gelap.

Angin sore berembus pelan melewati pelataran Masjidil Haram.

Kami berdoa lebih lama daripada biasanya.

Saya tidak lagi memikirkan urutan doa yang biasa saya bacakan kepada para jamaah. Yang memenuhi hati saya saat itu hanyalah satu harapan sederhana: semoga Allah ﷻ memberi kekuatan kepada seorang ibu yang sedang diuji, menguatkan hati si anak yang setia mendampinginya, serta membukakan jalan keluar terbaik bagi keduanya.

Hari itu saya kembali belajar bahwa tidak semua orang datang ke Baitullah dengan membawa seribu satu asa dan mimpi.

Sebagian datang dengan membawa luka dan derita. Sebagian datang dengan membawa ketakutan.

Sementara sebagian lagi datang hanya untuk mencari satu hal yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun selain Allah ﷻ: pengampunan.

Di bawah langit Makkah, dalam durasi doa yang sengaja saya lamakan dari biasanya, saya panjatkan seluruh permohonan ampunan, keteguhan hati, dan kebaikan masa depan bagi ibu dan anak tersebut.

Selesai

Penulis: Daday Hidayat, Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait