COVID-19 – Ilmuwan Rusia tingkatkan efektivitas pengobatan dengan virus Sendai

COVID-19 – Ilmuwan Rusia tingkatkan efektivitas pengobatan dengan virus Sendai
Ilustrasi. Para ilmuan Rusia membuat perangkat laser portabel untuk meningkatkan efektivitas pengobatan infeksi virus corona dengan virus Sendai. (Fusion Medical Animation on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Para ilmuan Rusia membuat perangkat laser portabel untuk meningkatkan efektivitas pengobatan infeksi virus corona dengan virus Sendai, menurut Kantor Berita TASS.

Virus Sendai, atau virus murine parainfluenza tipe 1, adalah virus berselubung berdiameter 150-200nm, beruntai tunggal, dengan RNA sense negatif yang merupakan bagian dari keluarga Paramyxoviridae.

Virus itu biasanya menginfeksi hewan pengerat dan babi, dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang sangat mudah menular. Replikasi virus Sendai terjadi di dalam sitoplasma sel yang terinfeksi.

Perangkat baru yang dibuat para ilmuan Rusia itu telah dipatenkan di Amerika Serikat, kata Direktur Akademik Institut Imunologi dan Fisiologi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia Cabang Ural, Valery Chereshnev, pada Rabu (14/10) di sebuah pertemuan ilmiah.

Pada Maret 2020, sekelompok ilmuwan Rusia mengusulkan metode perawatan pasien virus corona berdasarkan pengiriman laser virus Sendai yang tidak berbahaya ke organ yang terkena.

Dengan adanya virus Sendai dalam tubuh, sistem kekebalan mulai memproduksi antibodi yang menekan penyebaran virus corona di tubuh manusia.

“Sebuah teknologi laser yang meningkatkan efektivitas virotherapy dikembangkan di Rusia. Sel dendritik yang diaktifkan oleh laser mengirimkan virus Sendai ke sel target. Perangkat laser infra merah portabel domestik yang unik ini diciptakan untuk meningkatkan efektivitas virotherapy,” kata Chereshnev dalam presentasi berjudul “Infeksi COVID-19: Masalah dan Solusi.”

Dia menerangkan bahwa iradiator laser yang secara tajam meningkatkan aktivasi vaksin dan sediaan imunogenik itu telah dipatenkan di AS.

“Ini adalah laser infra merah berkekuatan 8-10 watt, dengan pemaparan dari satu sampai tiga menit ke area kulit tempat vaksin akan disuntikkan. Jika area kulit sudah diiradiasi sebelumnya, yang disebut protein kejutan panas, imunostimulan non-spesifik akan diaktifkan secara signifikan di titik ini,” jelas Chereshnev.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here