
Insinyur Australia kembangkan bahan bangunan daur ulang, jejak karbon seperempat dari bahan konvensional

Foto bertanggal 3 Mei 2025 ini menunjukkan sebuah lokasi pembangunan rumah sakit di Bogor, Jawa Barat. (Indonesia Window)
Bahan bangunan baru dapat dipakai ulang dan didaur ulang, terbuat dari karton, tanah, dan air, dengan jejak karbon sekitar seperempat dari jejak karbon beton.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim engineer di Australia berhasil mengembangkan bahan bangunan baru yang dapat dipakai ulang dan didaur ulang, yang terbuat dari karton, tanah, dan air, dengan jejak karbon sekitar seperempat dari jejak karbon beton.Bahan inovatif yang disebut tanah padat terbungkus karton (cardboard-confined rammed earth) ini dapat secara signifikan memangkas jejak karbon konstruksi serta mengurangi limbah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, papar pernyataan yang dirilis pada Senin (22/9) oleh Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) Australia.Bahan bangunan ini, yang membuat proses konstruksi tidak membutuhkan semen, menghasilkan emisi sekitar seperempat dari emisi beton sekaligus menawarkan harga tak sampai sepertiga dari harga beton, ungkap pernyataan tersebut."Dengan hanya menggunakan karton, tanah, dan air, kita dapat membuat dinding yang cukup kuat untuk menopang bangunan rendah," kata Ma Jiaming, peneliti RMIT yang menjadi penulis utama dalam penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Inggris Structures tersebut.Dalam sebuah penelitian terpisah, Ma menggabungkan serat karbon dengan tanah padat, mencapai kekuatan yang setara dengan beton berkinerja tinggi.Ma mengatakan bahwa inovasi ini dapat merevolusi desain dan konstruksi bangunan dengan menggunakan bahan lokal yang dapat didaur ulang. Inovasi ini mencerminkan kebangkitan konstruksi berbasis tanah di ranah global yang didorong oleh target net-zero dan fokus pada keberlanjutan.Bangunan-bangunan berdinding tanah padat terutama cocok untuk iklim panas karena secara alami mengatur suhu dan kelembapan di dalam ruangan, imbuh Ma.Metode ini melibatkan pemadatan campuran tanah dan air di dalam cetakan karton yang dapat dibuat di lokasi, sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengangkut bahan konstruksi berat, kata para peneliti.Setiap tahunnya, Australia mengirim lebih dari 2,2 juta ton karton dan kertas ke tempat pembuangan akhir, sementara produksi semen dan beton menyumbang sekitar 8 persen dari emisi global tahunan.Tim engineer dari RMIT mengatakan inovasi ini dapat bermanfaat untuk pembangunan di daerah terpencil yang memiliki tanah merah melimpah. Tim tersebut juga sedang mencari kemitraan dengan sektor industri terkait.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China rilis daftar isu iptek utama 2024
Indonesia
•
04 Jul 2024

Kapal pengebor laut pertama buatan China mulai uji coba pelayaran
Indonesia
•
19 Dec 2023

Wahana pendarat AS terus hasilkan tenaga surya di Bulan
Indonesia
•
29 Feb 2024

China berikan akses ke stasiun luar angkasanya untuk proyek ilmu antariksa
Indonesia
•
26 Jul 2023


Berita Terbaru

Makin suka dengan merek ‘fast food’, makin banyak gula dan lemak yang dikonsumsi? Ini kata studi
Indonesia
•
14 Sep 2026

Museum pterosaurus pertama di dunia dibuka di China, pamerkan fosil berusia 130 juta tahun
Indonesia
•
14 Sep 2026

Jantung ternyata punya ‘kalender’ sendiri, 70 persen orang ikuti ritme hingga berbulan-bulan
Indonesia
•
15 Sep 2026

MatBrain, AI China yang bisa berpikir hingga jalankan eksperimen untuk temukan material baru
Indonesia
•
14 Sep 2026
