
Astronaut Saudi akan lakukan 14 percobaan di Stasiun Luar Angkasa Internasional

Arab Saudi berhasil meluncurkan penerbangan ilmiah ke luar angkasa pertama yang membawa astronaut Rayana Bernawi dan Ali Al-Qarni, dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada Ahad malam (21/5/2023), waktu setempat. (Saudi Press Agency)
Astronaut Arab Saudi, Rayana Bernawi dan Ali Al-Qarni, yang telah bergabung di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) akan melakukan 14 percobaan ilmiah dan penelitian, termasuk melakukan kelas interaktif dengan para siswa Kerajaan yang berada di Bumi.
Jakarta (Indonesia Window) – Arab Saudi berhasil meluncurkan penerbangan ilmiah ke luar angkasa pertama yang membawa astronaut Rayana Bernawi dan Ali Al-Qarni, dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada Ahad malam (21/5), waktu setempat.Kedua astronaut Saudi itu akan melakukan 14 percobaan ilmiah dan penelitian selama misi mereka di ISS, menurut laporan Kantor Berita SPA.Hasil misi luar angkasa Saudi tersebut diharapkan membantu melayani umat manusia serta akan menegaskan peran utama pusat penelitian Arab Saudi dan upaya intensif mereka dalam bidang antariksa.Selama berada di ISS, kedua astronaut Saudi akan terlibat dalam 11 penelitian dan eksperimen ilmiah yang berkaitan dengan manusia, ilmu sel, dan eksperimen penyemaian awan di lingkungan gayaberat mikro. Selain itu, mereka akan berpartisipasi dalam tiga acara pendidikan interaktif dengan para siswa di Kerajaan.Sebuah tim peneliti dari Rumah Sakit Spesialis dan Pusat Penelitian Raja Faisal, dipimpin oleh Dr. Khalid Abu Khabar, bersama Dr. Wijdan Al-Ahmadi dan Dr. Adwar Hatti, bekerja sama dengan Saudi Space Commission (SSC), akan mengawasi eksperimen sains di bidang sel.Eksperimen ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana respons peradangan berubah di ruang angkasa, khususnya mengenai umur mRNA (messenger ribonucleic acid).Selanjutnya, bekerja sama dengan SSC, Dr. Ashraf Farhat dari King Fahd University of Petroleum and Minerals akan mengawasi eksperimen penyemaian awan dalam gayaberat mikro.Eksperimen ini bertujuan untuk menyimulasikan proses penyemaian awan yang digunakan di Kerajaan dan negara lain untuk meningkatkan tingkat curah hujan.Temuan tersebut akan membantu para ilmuwan dan peneliti dalam mengembangkan metode baru untuk menciptakan kondisi kehidupan yang cocok bagi manusia di koloni luar angkasa Bulan dan Mars.Sementara itu, sebuah tim dari Sadeem Company for Research and Development, dipimpin oleh Dr. Bader Shirah, bekerja sama dengan SSC, akan mengawasi enam percobaan di bidang penelitian manusia.Eksperimen ini akan berfokus pada pemahaman adaptasi manusia selama penerbangan luar angkasa, menilai dampaknya terhadap otak, dan mempelajari efeknya terhadap kesehatan manusia saat berada di luar angkasa.Eksperimen ilmiah yang dilakukan di ISS tersebut juga akan melibatkan para pelajar Arab Saudi secara aktif guna meningkatkan pemahaman mereka tentang ilmu antariksa dan potensinya dalam meningkatkan kehidupan di Bumi.Dengan membandingkan eksperimen mereka di Bumi dengan yang dilakukan oleh astronaut Saudi di ISS, para siswa akan memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara instan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Ajang Maraton Robot di Beijing dorong ‘evolusi cepat’ robot humanoid
Indonesia
•
20 Apr 2026

COVID-19 – Pfizer klaim lebih 90 persen efektif pada anak 5 hingga 11 tahun
Indonesia
•
23 Oct 2021

Mendarat miring, baterai wahana pendarat Bulan Odysseus bertahan hingga 20 jam lebih
Indonesia
•
28 Feb 2024

China masih jadi pasar robot industri terbesar di dunia
Indonesia
•
23 Aug 2024


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
