
Peningkatan kadar CO2 terdeteksi dalam darah manusia

Aurora terlihat di dekat Gletser Fox di Pulau Selatan, Selandia Baru, pada 20 Januari 2026. (Xinhua/Yang Liu)
Kadar bikarbonat serum, sebuah penanda darah yang terkait dengan CO2, meningkat sekitar 7 persen sejak 1999, sejalan dengan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer, disertai dengan penurunan kadar kalsium dan fosfor.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi di Australia mengungkap adanya peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah manusia, memperingatkan bahwa salah satu penanda penting dalam darah tersebut bisa mencapai batas sehatnya dalam beberapa dekade mendatang.
Temuan itu sangat relevan bagi anak-anak dan remaja, yang tubuhnya masih berkembang dan akan mengalami paparan kumulatif paling lama terhadap meningkatnya CO2 di atmosfer, menurut pernyataan dari Kids Research Institute Australia pada Rabu (4/3).
Para peneliti dari Kids Research Institute Australia, bekerja sama dengan Curtin University dan Universitas Nasional Australia (Australian National University/ANU), menganalisis data populasi Amerika Serikat (AS) dari 1999 hingga 2020. Hasilnya menunjukkan perubahan kimia darah yang stabil pada 7.000 orang selama periode tersebut, yang sejalan dengan meningkatnya kadar CO2 di atmosfer.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Air Quality, Atmosphere and Health menemukan bahwa kadar bikarbonat serum, sebuah penanda darah yang terkait dengan CO2, meningkat sekitar 7 persen sejak 1999, sejalan dengan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer, disertai dengan penurunan kadar kalsium dan fosfor.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia mungkin sudah mulai menyesuaikan diri dengan perubahan atmosfer, yang berpotensi menimbulkan konsekuensi fisiologis jangka panjang, kata penulis utama studi tersebut, Associate Professor Alexander Larcombe dari The Kids.
"Jika tren saat ini terus berlanjut, pemodelan memperkirakan kadar bikarbonat rata-rata bisa mendekati batas atas rentang sehat yang diterima saat ini dalam 50 tahun," kata Larcombe.
Studi tersebut menyerukan pemantauan komposisi atmosfer dan biomarker populasi secara bersamaan dengan indikator iklim tradisional untuk menilai dampak biologis jangka panjang terhadap manusia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kapal harta karun abad ke-18 ditemukan di dasar laut Norwegia, porselen China biru-putih masih utuh
Indonesia
•
03 Jun 2026

Puluhan landak Jawa kembali ke habitat alam
Indonesia
•
13 Nov 2019

LIPI gunakan aplikasi MONMANG pantau mangrove
Indonesia
•
07 Aug 2020

Ilmuwan China temukan bukti eksperimental pertama dari partikel mirip graviton
Indonesia
•
01 Apr 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
