AS buka koridor rahasia di Selat Hormuz, hampir 10 juta barel minyak melintas tiap hari

Foto yang bersumber dari Kementerian Informasi Oman pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan pemandangan di Selat Hormuz. (Xinhua)

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Militer Amerika Serikat (AS) secara diam-diam telah menetapkan koridor pelayaran masuk dan keluar Selat Hormuz untuk mengangkut jutaan barel minyak setiap hari, demikian dilaporkan outlet berita daring AS, Axios, pada Rabu (19/8).

Operasi tersebut telah berlangsung selama beberapa pekan dengan 15 hingga 20 kapal tanker minyak bergerak masuk ke dan keluar dari jalur perairan energi global tersebut setiap malam melalui rute selatan di sepanjang pantai Oman, ungkap laporan tersebut yang mengutip dua pejabat AS, saat perundingan damai antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu.

Rata-rata ekspor harian terus meningkat dan kini mendekati 10 juta barel, sebut keterangan kedua pejabat AS itu.

"Kami telah mengendalikan jalur selatan di Selat Hormuz selama dua bulan terakhir. Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memang bisa menjadi gangguan, tetapi mereka tidak mengendalikan selat itu. Kamilah yang mengendalikannya," kata salah satu pejabat AS, yang mengetahui langsung mengenai masalah tersebut, sebagaimana dikutip.

Menurut laporan Axios tersebut, Angkatan Udara AS memiliki jet tempur yang melindungi dari serangan rudal jelajah dan drone Iran. Beberapa kapal telah terkena serangan Iran, tetapi banyak serangan yang berhasil dicegah oleh militer AS, imbuh laporan.

Sebelumnya pada pekan ini, pasukan AS telah menembak jatuh delapan drone dan dua rudal jelajah Iran, sebut salah satu pejabat AS sebagaimana dikutip.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengisyaratkan bahwa perundingan dengan Teheran dapat dimulai kembali "suatu saat nanti", seraya mengeklaim bahwa situasi dengan Iran "sangat baik".

"Saat ini, menurut saya situasinya sangat baik," kata Trump kepada awak media, seraya menegaskan kembali klaimnya bahwa AS "memiliki" dan memegang "kendali penuh" atas Selat Hormuz, yang secara efektif telah ditutup tidak lama setelah AS dan Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait