
AI menyebar cepat di Malaysia: 1 juta bisnis baru adopsi AI dalam setahun

Orang-orang mengabadikan foto kembang api dalam perayaan hari kemerdekaan ke-68 Malaysia di dekat Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Agustus 2025. (Xinhua/Cheng Yiheng)
Kuala Lumpur, Malaysia (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 38 persen bisnis di Malaysia kini secara konsisten menggunakan setidaknya satu perangkat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), naik dari 27 persen pada 2025, menurut survei Amazon Web Services (AWS) yang dirilis pada Rabu (19/8).
Satu juta bisnis tambahan telah mengadopsi AI selama setahun terakhir, hampir dua bisnis setiap menitnya, sehingga meningkatkan totalnya menjadi lebih dari 3,4 juta, sebut AWS dalam laporannya yang berjudul ‘Unlocking Malaysia's AI Potential 2026’.
"Namun, skala penerapannya belum sejalan: 67 persen pengadopsi masih berfokus pada aplikasi dasar seperti chatbot publik untuk tugas-tugas rutin atau perangkat siap pakai guna menyederhanakan proses yang sudah ada, sementara hanya 19 persen bisnis yang memiliki strategi formal untuk memperluas skala penggunaan AI di berbagai fungsi," ungkap laporan tersebut.
Sebagian besar bisnis tidak akan mengembangkan setiap kapabilitas AI secara internal, dengan lebih dari 57 persen utamanya memperoleh kapabilitas AI tersebut melalui penyedia eksternal, konsultan, atau vendor perangkat lunak. Sebagai perbandingan, 69 persen menyatakan penyedia perangkat lunak dan pengembang solusi AI berbasis lokal memiliki peran penting dalam proses adopsi mereka, sebut laporan itu.
"Penyedia yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sektor tertentu dapat mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja yang sudah familier dan membuat kapabilitas itu tersedia bagi banyak organisasi, sehingga membantu keahlian tersebut menjangkau lebih luas di seluruh perekonomian," kata laporan tersebut.
Sementara itu, di sektor jasa keuangan, laporan AWS menyatakan bahwa 64 persen bisnis telah bergerak melampaui tahap eksperimen dan 42 persen di antaranya memiliki strategi perluasan skala.
Sektor tersebut juga memimpin dalam hal tata kelola: 39 persen di antaranya memiliki kerangka kerja tata kelola AI formal, dibandingkan dengan 24 persen di semua bisnis. Industri itu beroperasi di salah satu lingkungan dengan regulasi paling ketat di Malaysia, tetapi telah mencapai kemajuan yang lebih jauh daripada sebagian besar industri lainnya dalam mengintegrasikan AI ke dalam seluruh operasi bisnisnya.
"Hal ini menunjukkan bahwa investasi tata kelola justru mempercepat kematangan AI, alih-alih menghambatnya. Hal ini menjadi tolok ukur bagi sektor-sektor lain; bisnis yang ingin bergerak melampaui tahap uji coba sebaiknya mempertimbangkan untuk menyediakan sumber daya bagi tata kelola melalui tim khusus, perangkat pendukung dan dukungan eksekutif," urai laporan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

BPS catat inflasi sebesar 0,40 persen pada Mei 2022
Indonesia
•
03 Jun 2022

Filipina kirim ekspor pertama durian segar ke China
Indonesia
•
09 Apr 2023

‘Cryptocurrency’ akan jadi komoditas legal di Rusia tahun depan
Indonesia
•
09 Dec 2022

Hasil survei lembaga riset sebut prospek ekspor Jerman memburuk di tengah kekhawatiran tarif AS
Indonesia
•
28 Jun 2025


Berita Terbaru

47.577 kartu sudah terjual, Whoosh ungkap tren baru pelanggan rutin
Indonesia
•
20 Aug 2026

Utang nasional AS tembus 712 kuadriliun rupiah, pembayaran bunga kalahkan anggaran pertahanan
Indonesia
•
20 Aug 2026

AS buka koridor rahasia di Selat Hormuz, hampir 10 juta barel minyak melintas tiap hari
Indonesia
•
20 Aug 2026

Singapura perketat platform ‘online’, denda pelanggaran bisa tembus 120 miliar rupiah
Indonesia
•
19 Aug 2026
