AS bujuk negara-negara lain gabung koalisi baru untuk jamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz

Sejumlah tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz di Iran selatan pada 30 April 2019. (Xinhua/Ahmad Halabisaz)

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Gedung Putih meminta negara-negara lain untuk bergabung dalam koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) yang bertujuan untuk memungkinkan kapal-kapal melintasi Selat Hormuz, lapor The Wall Street Journal (WSJ) pada Rabu (29/4).

Koalisi yang disebut sebagai Maritime Freedom Construct (MFC) itu dijabarkan dalam pesan internal Departemen Luar Negeri (Deplu) AS yang dikirim ke kedutaan-kedutaan besar AS pada Selasa (28/4). Menurut laporan WSJ, pesan itu mendesak para diplomat AS untuk menekan pemerintah asing agar bersedia bergabung.

Menurut laporan tersebut, MFC akan menjadi upaya bersama antara Deplu AS dan Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS. Deplu AS "akan berperan sebagai pusat operasi diplomatik," sementara CENTCOM "akan memberikan kesadaran domain maritim secara waktu nyata" bagi pelayaran komersial serta mengoordinasikan pertukaran informasi dengan militer mitra, sebut laporan itu.

Koalisi baru ini akan berbagi informasi, berkoordinasi secara diplomatik, dan memberlakukan sanksi, lanjut laporan itu, mengutip isi pesan internal yang juga menginstruksikan para pejabat AS untuk menanyakan kepada mitra setara mereka di luar negeri apakah mereka bersedia menjadi "mitra diplomatik dan/atau militer."

"Partisipasi Anda akan memperkuat kemampuan kolektif kita untuk memulihkan kebebasan pelayaran dan melindungi ekonomi global," demikian bunyi pesan internal itu. "Tindakan kolektif sangat penting untuk menunjukkan persatuan tekad dan memberikan konsekuensi yang berarti atas gangguan Iran terhadap transit di Selat tersebut."

"MFC akan melengkapi gugus tugas keamanan maritim lainnya, termasuk upaya perencanaan maritim yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis," tulis pesan internal itu.

Selat Hormuz telah menjadi titik kebuntuan utama dalam perundingan damai yang mandek antara AS dan Iran, membuat jalur sempit yang krusial tersebut berada dalam ketidakpastian seiring meningkatnya kekhawatiran soal lonjakan harga energi global.

Sementara Iran menargetkan kapal-kapal yang tidak membayar biaya transit saat keluar dari selat, Angkatan Laut AS telah menerapkan blokade menyeluruh terhadap semua kapal ke dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan akan tetap memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran sampai Teheran menyetujui kesepakatan dengan Washington yang berfokus pada program nuklirnya.

"Blokade ini sedikit lebih efektif daripada pengeboman," ujar Trump kepada media daring AS, Axios, dalam wawancara via telepon.

Seorang sumber keamanan senior Iran pada Rabu mengatakan blokade Angkatan Laut AS "akan segera direspons dengan tindakan nyata dan belum pernah terjadi sebelumnya."

WSJ melaporkan bahwa kelanjutan blokade ini memperpanjang konflik yang memicu kenaikan harga bahan bakar, menekan tingkat persetujuan bagi Trump, dan meredupkan prospek Partai Republik dalam pemilihan umum (pemilu) sela. Hal ini juga memicu arus lalu lintas terendah melalui Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari.

Tanpa adanya jalan keluar yang jelas, sejumlah pejabat AS mengatakan bahwa konflik yang telah berlangsung selama delapan pekan ini bisa berakhir tanpa kesepakatan nuklir ataupun berlanjutnya perang.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait