Analisis – Pengerahan pasukan darat AS ke Iran dapat rugikan Trump dari segi politik

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadiri Upacara Pengampunan Kalkun Thanksgiving Nasional di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 25 November 2025. (Xinhua/Hu Yousong)

Operasi darat AS di Iran akan sangat berbahaya bagi pasukan AS, dengan risiko tinggi jatuhnya banyak korban.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Laporan mengenai pengerahan pasukan Amerika Serikat (AS) ke Iran bermunculan, tetapi para analis memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menimbulkan kerugian politik bagi Presiden AS Donald Trump.

Pentagon diperkirakan akan mengirim sebagian dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah seiring konflik Iran memasuki pekan keempat, menurut berbagai sumber anonim yang dikutip dalam laporan CBS News yang dirilis pada Selasa (24/3).

Elemen komando serta sejumlah pasukan darat diperkirakan akan menjadi bagian dari pengerahan tersebut, yang jumlahnya diprediksi kurang dari 1.500 personel, lapor CBS.

Langkah ini dapat memicu ketidakpuasan dalam basis pendukung MAGA (‘Make America Great Again’) Trump, yang diketahui tidak setuju dengan apa yang mereka yakini sebagai perang asing yang tidak perlu dan tidak meningkatkan taraf hidup warga Amerika biasa.

"Pengerahan pasukan darat akan menjadi eskalasi besar bagi AS. Hal ini akan menempatkan pasukan kita dalam bahaya yang cukup besar dan dapat mengakibatkan cedera atau bahkan korban jiwa. Keduanya akan menjadi masalah besar bagi Trump, yang berkampanye dengan janji mengakhiri perang dan mengurangi keterlibatan Amerika di seluruh dunia," ujar Darrell West, senior fellow di Brookings Institution, kepada Xinhua.

Situasi ini terjadi menjelang pemilu paruh waktu, yang menurut para pengamat politik akan cukup sulit bagi Partai Republik bahkan tanpa adanya perang yang tidak disukai di kalangan pendukung inti Trump.

Tentu saja, para ahli memperingatkan bahwa operasi darat AS di Iran akan sangat berbahaya bagi pasukan AS, dengan risiko tinggi jatuhnya banyak korban. Banyak keluarga militer berada di dalam basis pendukung MAGA, dan mereka cenderung berhati-hati terhadap perang luar negeri yang dapat membahayakan nyawa orang-orang terkasih mereka.

Selain itu, perang di Iran terjadi di saat para pendukung MAGA sedang sangat menantikan Trump untuk mewujudkan sederet kebijakan domestik yang telah lama dijanjikan. Perang yang melibatkan pasukan darat dapat menjadi distraksi besar dari upaya-upaya tersebut.

Sejarah tidak memberikan pertanda baik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu, karena partai yang sedang berkuasa biasanya kehilangan kursi di Kongres. Sikap yang tidak konsisten mengenai perang yang dianggap tidak perlu bisa merugikan sang presiden dalam pemilu Kongres pada November, kata para ahli.

Clay Ramsay, peneliti di Pusat Studi Internasional dan Keamanan (Center for International and Security Studies) di Universitas Maryland, mengatakan kepada Xinhua bahwa "hambatan elektoral yang besar bisa datang dari serangan ke wilayah Iran, termasuk serangan amfibi."

"AS mungkin memiliki pasukan dan peralatan yang sangat baik, tetapi mereka tidak memiliki pengalaman," imbuhnya.

Bagi Trump, sangat penting untuk mendorong basis pendukungnya agar pergi ke tempat pemungutan suara dan memberikan suara mereka dalam pemilu paruh waktu, tetapi kehadiran pasukan AS di Iran dapat melemahkan semangat sebagian pendukung sang presiden.

"Sebagian orang yang memilih Trump pada 2024 kemungkinan tidak akan memberikan suara pada November, dan perang Iran yang terus berlanjut dengan keterlibatan infanteri tempur akan berkontribusi terhadap hal itu," kata Ramsay.

"Jika sebagian besar pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai MAGA tidak ikut memilih, hal itu saja sudah cukup untuk membahayakan peluang Partai Republik dalam sejumlah pemilihan penting," kata Christopher Galdieri, profesor ilmu politik di Saint Anselm College di Negara Bagian New Hampshire, AS timur laut, kepada Xinhua.

AS terus terlibat dalam perang sejak 2001, ketika pasukannya menginvasi Afghanistan dan tidak sepenuhnya menarik diri hingga dua dekade setelahnya. Selama periode tersebut, militer AS juga terlibat dalam perang di Irak selama sembilan tahun.

Tak lama setelah penarikan pasukan dari Afghanistan, Washington berperan besar dalam perang di Ukraina, dengan para podcaster pro-MAGA seperti Tucker Carlson bahkan menggambarkan konflik tersebut sebagai "perang proksi AS" melawan Rusia.

Banyak pendukung MAGA merasa lelah dengan perang dan ingin dana pajak mereka digunakan untuk kepentingan lain.

Sang presiden juga menyampaikan pernyataan yang tidak konsisten mengenai peran AS dalam konflik Iran. "Kita telah memenangkan perang ini. Perang ini sudah dimenangkan," ujar Trump pada Selasa.

Sementara itu, Washington telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik tersebut, menurut NBC.

Iran "memberi tanggapan negatif" soal proposal AS tersebut, demikian dilaporkan media pemerintah negara itu.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait