Analisis – Langkah proteksionis UE hanya akan jadi bumerang

Foto yang diabadikan pada 23 Mei 2025 ini menunjukkan bendera Uni Eropa di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Saat para komisaris Eropa bersiap untuk membahas hubungan perdagangan blok tersebut dengan China, mereka harus menyadari bahwa pemilihan langkah proteksionis pada akhirnya akan terbukti kontraproduktif, sementara kerja sama yang saling menguntungkan tetap menjadi jalan paling efektif ke depannya.

Sejak awal tahun ini, Uni Eropa (UE) terus memperbarui ‘senjata pertahanan perdagangannya’ dengan memperkenalkan berbagai langkah pembatasan yang menargetkan perusahaan dan produk China.

Yang terbaru, dengan berencana untuk memaksa perusahaan-perusahaan Eropa melakukan diversifikasi pemasok, blok tersebut terus menumpuk hambatan investasi dan diskriminasi kelembagaan, dengan China menanggung dampak terparahnya.

Langkah-langkah proteksionis yang diterapkan Brussel terus mengganggu perdagangan dan kerja sama ekonomi antara kedua mitra dagang, dan semakin memperburuk prospek kemitraan bilateral secara keseluruhan.

Faktanya, keputusan UE tersebut tidak akan banyak mengurangi kekhawatirannya atau menyelesaikan masalah apa pun. Mengingat 99 persen bisnis di Eropa adalah usaha kecil dan menengah, setiap langkah yang dapat meningkatkan biaya produksi bakal mengurangi daya saing industri benua tersebut.

Lebih lanjut, mengingat kompleksitas struktural yang dimiliki rantai pasokan global, terutama dalam manufaktur canggih, upaya untuk ‘mengurangi risiko’ atau memisahkan diri (decouple) hanya akan menimbulkan biaya dan gangguan yang signifikan.

Kekhawatiran perdagangan Eropa juga berasal dari menurunnya daya saing sektor manufakturnya. Namun, alih-alih mengembangkan mesin pertumbuhan baru untuk merevitalisasi basis industrinya, blok itu tampaknya justru mengambil pendekatan yang keliru dengan semakin memandang isu-isu ekonomi melalui kacamata keamanan.

China menegaskan kembali bahwa tindakan sepihak UE diduga melanggar peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan akan menyebabkan kerugian besar terhadap hubungan ekonomi dan perdagangan China-UE, mengganggu rantai industri dan pasokan global, dan pada akhirnya membebani Eropa sendiri.

Beijing tidak menginginkan perang dagang dengan UE, tetapi akan mengambil tindakan balasan yang tegas jika UE terus menyasar perusahaan atau produk China.

Meski demikian, China secara konsisten berpendapat bahwa, mengingat adanya komplementaritas ekonomi di antara kedua belah pihak, kerja sama yang saling menguntungkan menawarkan jalan terbaik untuk bangkit dari kesulitan ekonomi Eropa saat ini.

Tindakan lebih bermakna dibanding kata-kata. Survei dari Kamar Dagang UE di China baru-baru ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa meningkatkan upaya dalam hal manufaktur di China, terlepas dari dorongan UE untuk mengurangi risiko. Hampir sepertiga responden melaporkan peningkatan onshoring di China, sementara 68 persen mengatakan mereka mempertahankan atau memperluas operasi di negara itu.

China juga siap menyelesaikan isu-isu perdagangan dengan UE melalui diskusi. Saat ini, Beijing sedang terlibat dalam negosiasi WTO dengan blok tersebut terkait rencana UE untuk menerapkan tarif baja baru per 1 Juli mendatang.

Beijing secara konsisten memandang UE sebagai mitra pentingnya. Kerja sama antara kedua pihak bukanlah sumber kesulitan Eropa saat ini, sebaliknya, kerja sama ini merupakan peluang penting bagi benua tersebut untuk meraih kembali momentum ekonominya.

UE mungkin meyakini bahwa mengambil sikap yang lebih keras terhadap China akan membantu menghentikan kemerosotan industrinya dan melindungi kedudukan globalnya. Namun, pada kenyataannya, langkah semacam itu hanya akan menjadi miskalkulasi strategis yang fatal, yang konsekuensinya harus ditanggung oleh Eropa sendiri. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait