
Analisis – Akankah Houthi Yaman ikut berperang untuk dukung Iran?

Warga Yaman berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa sebagai bentuk solidaritas dengan Iran di Sanaa, Yaman, pada 1 Maret 2026. (Xinhua/Mohammed Mohammed)
Intervensi Houthi mungkin dipandang sebagai "kartu cadangan" yang hanya akan dimainkan jika konflik meningkat menjadi perang darat skala penuh atau blokade total terhadap kepentingan Iran.
Sanaa, Yaman (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 10 hari setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai serangan skala besar terhadap Iran, gerakan Houthi Yaman, salah satu sekutu regional utama Teheran, sebagian besar masih belum terlibat langsung, meski telah berulang kali mengeluarkan ancaman dan menyatakan solidaritas dengan Iran.
Para analis mengatakan sikap menahan diri ini menunjukkan bahwa baik militan Yaman maupun sekutu Iran mereka masih mempertimbangkan apakah membuka front kedua di Laut Merah diperlukan secara strategis, setidaknya untuk saat ini.
Pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menyatakan "solidaritas penuh" dengan Iran pada hari pertama konflik, mengatakan pasukannya "sepenuhnya siap untuk menghadapi perkembangan apa pun." Dalam pidato-pidato berikutnya, dia kembali menegaskan tangan mereka "siap menarik pelatuk" jika perkembangan situasi mengharuskan adanya tindakan, menggambarkan konfrontasi ini sebagai perjuangan regional yang lebih luas alih-alih konflik yang terbatas pada Iran.
Pernyataan terbarunya dilontarkan pada Senin (9/3), saat dia mengucapkan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan mendiang ayahnya Ali Khamenei, sekaligus menegaskan kembali dukungan Yaman dalam melawan "agresi AS dan Israel."
Keselarasan ideologis ini secara historis telah diterjemahkan ke dalam tindakan. Retorika tersebut mengingatkan pada peran Houthi dalam krisis regional sebelumnya. Selama konfrontasi singkat namun intens antara Israel dan Iran pada Juni 2025, kelompok itu mengeklaim telah menembakkan rudal balistik ke arah Israel dalam kerja sama dengan pasukan Iran. Sejak perang Gaza pada 2023, mereka juga meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah.
Namun demikian, keheningan saat ini menyiratkan bahwa strategi yang berbeda sedang diterapkan.
"Houthi sedang menunggu sinyal strategis," kata Mujeeb Shamsan, seorang analis militer Yaman. Dia menuturkan bahwa bagi militan Yaman, keterlibatan dalam konflik adalah masalah "kapan," bukan "jika," tetapi mereka membutuhkan momen yang tepat untuk memaksimalkan pengaruh merek.
Maysaa Shujaa al-Deen, seorang peneliti di Pusat Studi Strategis Sana'a, mengatakan sinyal tersebut mungkin belum muncul karena Iran belum membutuhkannya saat ini.
Mengingat kedekatan geografis Iran dengan wilayah operasi saat ini, intervensi Houthi mungkin dipandang sebagai "kartu cadangan" yang hanya akan dimainkan jika konflik meningkat menjadi perang darat skala penuh atau blokade total terhadap kepentingan Iran.
Keraguan itu juga dipicu oleh faktor-faktor lain. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang berbasis di Aden, pada Senin mengeluarkan peringatan keras terhadap "agenda eksternal" yang dapat menyeret negara tersebut kembali ke dalam kekacauan. Dewan Kepemimpinan Presiden menyatakan wilayah Yaman tidak boleh digunakan untuk mengancam pelayaran internasional, menandakan bahwa setiap eskalasi oleh Houthi akan menghadapi penentangan keras dari Aden.
Selain itu, para analis militer mempertanyakan sejauh mana Houthi dapat berkontribusi dalam pertahanan langsung Iran.
"Kemampuan kelompok tersebut masih relatif terbatas dan rentan," ujar Fayyad al-Numan, seorang pejabat dan analis politik Yaman. "Keterlibatan mereka akan terutama memperluas ketegangan regional dan memicu pembalasan yang tidak dapat ditanggung oleh infrastruktur Yaman yang rapuh."
Jika Houthi bertindak, konsensus di antara para pengamat adalah bahwa mereka tidak akan terbang menuju gurun Israel, melainkan berbalik kembali ke arah laut.
"Langkah paling signifikan adalah serangan baru terhadap kapal-kapal di Laut Merah," tutur Maad al-Zakri, seorang analis politik. Meski serangan semacam itu tidak akan membuat perubahan besar dalam keseimbangan militer di Iran, langkah itu akan langsung menjadikan konflik tersebut mengglobal, menaikkan harga energi, dan memaksa negara-negara Barat mengambil tindakan.
Untuk saat ini, hal tersebut membuat Houthi berada di posisi yang familier: bersenjata, vokal, dan berpihak pada Teheran, tetapi juga menunggu momen yang tepat ketika memasuki perang berarti akan menguntungkan mereka secara strategis maupun politik.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Saudi perbarui aturan, tak perlu divaksinasi untuk masuk kerajaan
Indonesia
•
23 Mar 2022

Seruan persatuan Presiden Argentina dibalas protes anti-pemerintah
Indonesia
•
10 Jul 2022

Kapal bawa biji-bijian pertama dari Ukraina berlabuh di Istanbul untuk inspeksi
Indonesia
•
03 Aug 2022

COVID-19 – Novavax jadi pilihan tentara AS yang tolak vaksinasi karena alasan agama
Indonesia
•
09 Jun 2022


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
