
Studi: Aktivitas yang menstimulasi mental saat rehat miliki kaitan dengan otak yang lebih sehat

Seorang pengunjung membaca buku di perpustakaan daerah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 19 Agustus 2024. (Indonesia Window)
Aktivitas yang menstimulasi secara sosial atau mental seperti membaca, memainkan alat musik, membuat kerajinan tangan, atau berbicara dengan orang lain bermanfaat bagi kemampuan daya ingat dan berpikir.
Adelaide, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Melakukan aktivitas yang menstimulasi mental selama waktu rehat, seperti membaca, dapat membawa dampak baik bagi kesehatan otak, menurut sebuah penelitian di Australia baru-baru ini.Dalam sebuah studi baru, tim peneliti dari Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) menemukan bahwa beberapa aktivitas sedenter, atau aktivitas yang dilakukan sembari duduk, memiliki fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan aktivitas lainnya.Tim peneliti tersebut menilai pola aktivitas 24 jam dari 397 orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Mereka menemukan bahwa aktivitas yang menstimulasi secara sosial atau mental seperti membaca, memainkan alat musik, membuat kerajinan tangan, atau berbicara dengan orang lain bermanfaat bagi kemampuan daya ingat dan berpikir.Menonton televisi atau bermain gim video terbukti memberikan dampak buruk.Tim peneliti tersebut menyampaikan bahwa temuan-temuan itu dapat membantu mengurangi risiko gangguan kognitif, termasuk demensia."Kita sudah tahu bahwa aktivitas fisik merupakan pelindung yang kuat dari risiko demensia, dan hal ini tentu harus diutamakan jika Anda ingin meningkatkan kesehatan otak Anda. Namun, sampai saat ini kita belum secara langsung mengeksplorasi apakah kita bisa mendapatkan keuntungan bagi kesehatan otak dengan mengganti perilaku sedenter dengan perilaku sejenis," tutur Maddison Mellow, salah satu penulis studi itu dari UniSA.Dia merekomendasikan membagi waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi atau bermain gim dengan serangkaian aktivitas fisik atau aktivitas yang dilakukan sembari duduk tetapi lebih banyak melibatkan sisi kognitif selama lima menit.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia mengidap demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru didiagnosis setiap tahunnya.Di Australia, hampir dua pertiga pasien pengidap demensia berjenis kelamin wanita. Demensia diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian di Australia dalam beberapa tahun mendatang setelah menduduki peringkat kedua pada 2023.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Satelit pencitraan ‘multimode’ resolusi tinggi China mulai beroperasi
Indonesia
•
21 Jan 2022

Penelitian ungkap sampel Bulan Chang'e-6 punya ‘karakteristik unik’
Indonesia
•
20 Sep 2024

Ilmuwan Rusia sebut aktivitas Matahari naik tiga kali lipat dibandingkan rata-rata Juli
Indonesia
•
14 Jul 2025

NSFC dan Gates Foundation danai tujuh proposal penelitian tentang regulasi vaksin
Indonesia
•
26 Oct 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
