
Tim ilmuwan China capai emisi gas rumah kaca net-negatif melalui katalisis elektrik

Foto dari udara yang diabadikan dengan menggunakan 'drone' pada 11 Januari 2025 ini menunjukkan ladang angin lepas pantai di dekat pesisir Yancheng, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Wang Yan)
Strategi katalisis elektrik inovatif dapat menghilangkan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang dihasilkannya, sehingga mencapai emisi net-negatif.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil mengembangkan sebuah strategi katalisis elektrik inovatif yang dapat menghilangkan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang dihasilkannya, sehingga mencapai emisi net-negatif, demikian menurut sebuah artikel penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Sabtu (12/7).Karbon dioksida dan metana merupakan dua gas rumah kaca utama yang disebabkan oleh manusia. Mengurangi dan bahkan memusnahkan gas-gas tersebut dari atmosfer telah menjadi prioritas ilmiah yang signifikan.Sebelumnya, metode tradisional penghilangan karbon dioksida dan metana dilakukan melalui sebuah proses yang dikenal sebagai dry reforming of methane (DRM) yang beroperasi pada suhu tinggi melebihi 800 derajat Celsius dan biasanya ditenagai bahan bakar fosil.Karbon dioksida yang dilepaskan selama proses tersebut sering kali lebih besar daripada jumlah yang dikonversi, sehingga menghambat upaya untuk mengurangi emisi dan memitigasi perubahan iklim.Sebuah tim peneliti dari Institut Teknologi dan Rekayasa Material Ningbo (Ningbo Institute of Materials Technology and Engineering/NIMTE) dari Akademi Ilmu Pengetahuan China dan Universitas Jinan berhasil mengembangkan sebuah strategi katalisis elektrik baru untuk DRM, yang mereka sebut sebagai DRM elektrik (e-DRM).Dalam penelitian tersebut, proses e-DRM mengubah karbon dioksida dan metana menjadi syngas (gas sintetis) hidrogen dan karbon monoksida dengan tingkat pemanfaatan energi yang mengesankan, yakni sebesar 80 persen.Pendekatan inovatif ini mencapai konversi keseimbangan termodinamika dan mempertahankan stabilitas selama lebih dari 120 jam, ungkap artikel penelitian itu.Menggunakan listrik terbarukan dari sumber-sumber seperti angin, matahari, tenaga air, dan energi nuklir, proses ini dapat mengubah lebih banyak karbon dioksida daripada yang diemisikan saat pembangkitan listrik.Terobosan ini berpotensi memajukan transisi DRM dari penelitian laboratorium ke penerapan komersial, sebut NIMTE.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Para taikonaut Shenzhou-16 lakukan jumpa pers usai kembali dari luar angkasa
Indonesia
•
21 Jan 2024

Tim peneliti China kembangkan purwarupa ‘drone’ yang dapat menyelam
Indonesia
•
13 Feb 2023

Arab Saudi unggul dalam kecepatan dan jangkauan 5G dunia
Indonesia
•
28 Aug 2020

Ilmuwan China kembangkan teknik penambangan tanah jarang yang ramah lingkungan
Indonesia
•
03 Oct 2023


Berita Terbaru

Sinar matahari bisa ubah limbah plastik jadi bahan bakar bersih
Indonesia
•
30 Apr 2026

Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung
Indonesia
•
30 Apr 2026

Ada mikroplastik di dalam otak manusia, peneliti ungkap pola distribusinya
Indonesia
•
30 Apr 2026

ZTE dan XLSMART luncurkan pusat inovasi di Jakarta untuk dukung pengembangan 5G-A dan AI di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026
