Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor

Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor
Seorang anggota tim Explore Indonesia Window sedang melihat ke bahwa lembah air terjun Cijerai yang dalamnya sekitar 10 meter. Air terjun Cijerai atau Curug Love terletak di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi wisata ini termasuk dalam Geopark Pongkor yang ditetapkan oleh pemerintah daerah pada November 2018. (Indonesia Window)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Di Arizona, Amerika Serikat ada bentang alam bernama Antelope Canyon (Lembah Antelope).

Lembah sedalam 37 meter itu memiliki dinding batuan sedimen berbentuk spiral melengkung yang sekilas memang mirip dengan tanduk antelope, binatang yang menyerupai kijan dan kambing.

Morfologi semacam Antelope Canyon ternyata juga ditemukan di tebing air terjun Cijerai di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Dari ibu kota Jakarta, air terjun Cijerai berjarak sekitar 94,8 kilometer dan dapat dicapai dengan kenderaan roda empat selama dua jam dan 27 menit.

Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor
Air terjun Cijerai atau Curug Love dan daerah sekitarnya yang terletak di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi wisata ini termasuk dalam Geopark Pongkor yang ditetapkan oleh pemerintah daerah pada November 2018. (Indonesia Window)
Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor
Dinding tebing air terjun Cijerai atau Curug Love menunjukkan struktur lapisan sedimen yang meliuk, mengikuti aliran air. (Indonesia Window)

Geopark

Tebing air terjun Cijerai dengan tinggi sekitar 10 meter sangat unik.

Dinding batuan sedimen yang tertoreh aliran air sejak Zaman Miosen (23-5 juta tahun lalu) itu tidak hanya membentuk lembah sempit yang tegak, namun juga meninggalkan jejak struktur lapisan sedimen yang pasti akan menarik para ahli geologi.

Sekelebatan, struktur sedimen pada tebing air terjun itu mengingatkan akan Antelope Canyon yang terbentuk akibat erosi saat terjadi banjir bandang, sehingga memperdalam koridor dan menghaluskan tepi lapisan. Proses geologi tersebut akhirnya menampilkan bentuk “aliran” yang meliuk-liuk.

Struktur serupa pada tebing air terjun yang juga dikenal sebagai Curug Love itu merupakan tempat wisata air yang mengasyikan dan memiliki banyak sudut yang “instagramable”.

Sejumlah pengunjung yang menikmati Curug Love pasti tak akan melewatkan kesempatan untuk mengambil gambar, terutama saat berada di dalam kolam air terjun.

Air dari Curug Love terus mengalir mengisi morfologi bergradien rendah hingga sampai di rumah-rumah penduduk dan sawah yang menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar dari penduduk Desa Bantar Karet.

Keharmonisan antara manusia dan alam tersebut menjadikan Curug Love yang termasuk dalam wilayah Pongkor sebagai geopark (taman bumi) nasional yang ditetapkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bogor pada November 2018.

Curug Love adalah satu diantara lokasi wisata dalam kawasan Geopark Pongkor yang cukup ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan meskipun akses menuju curug hanya berupa jalan setapak.

Agar lingkungan di sekitar air terjun Cijerai tetap terjaga kealamiahannya, pengurus Curug Love Diding mengatakan setiap saat dirinya membersihkan kolam dan sungai alami yang berada di bagian atas curug.

Air Terjun Cijerai, “Antelope Canyon” di Geopark Pongkor
Diding, pengurus air terjun Cijerai atau Curug Love saat menjelaskan mengenai lokasi wisata tersebut kepada tim Explore Indonesia Window baru-baru ini. (Indonesia Window)

Meskipun belum banyak orang tahu situs geologi yang elok ini, beberapa orang asing termasuk dari Jerman, Korea Selatan dan Cina telah Curug Love, kata Diding yang merupakan mantan petugas keamanan perusahaan tambang nasional Aneka Tambang (Antam).

“Saya diminta merawat air terjun oleh seorang direktur Antam,” kata Diding yang juga mengelola sebuah warung yang menjual minuman dan makanan bagi para pengunjung.

Untuk bisa bermain di kolam curug, setiap pengunjung harus membayar 10 ribu rupiah, menurut Diding, menambahkan bahwa uang yang dikumpulkan digunakan untuk urusan kebersihan dan memperbaiki peturasan dan mushola yang bangunannya masih sangat sederhana.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here