Analis: Presiden Assad manfaatkan bencana gempa untuk tarik simpati dunia

Para petugas penyelamat mencari korban selamat di antara reruntuhan bangunan yang hancur di area permukiman Karm Al-Jabal di Kota Aleppo, Suriah utara, pada 8 Februari 2023. (Xinhua/Str)

Gempa Turkiye dan Suriah, yang paling mematikan di dunia dalam beberapa dekade, dengan lebih dari 50.000 kematian – digunakan oleh Presiden Bashar Al-Assad untuk keluar dari isolasi internasionalnya.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Presiden Suriah Bashar Al-Assad – yang telah dijauhi sebagai ‘paria’ karena membom rakyatnya sendiri selama perang saudara berdarah 12 tahun, memanfaatkan musibah gempa bumi yang melanda negaranya untuk menarik simpati politik para pemimpin dunia guna mengeluarkannya dari isolasi di panggung internasional, kata para analis baru-baru ini.

Gempa bumi – yang paling mematikan di dunia dalam beberapa dekade, dengan lebih dari 50.000 kematian – digunakan oleh Damaskus untuk keluar dari isolasi internasionalnya, menurut Lina Khatib, direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House.

Dia mengatakan, “Tak lama setelah gempa bumi, reaksi publik rezim bukanlah untuk mengungkapkan belasungkawa bagi semua orang Suriah yang terkena dampak tragedi itu, tetapi menggunakan tokoh kuncinya untuk mencoba mencapai legitimasi de facto di panggung internasional untuk Assad.”

“Presiden Bashar Al-Assad telah mengeksploitasi simpati untuk korban gempa bumi Suriah untuk menyerukan pencabutan sanksi Barat dan mengakhiri isolasi internasionalnya,” tulis Francesco Siccardi, manajer program senior dan analis riset senior di Carnegie Eropa.

Assad menjadi pusat perhatian internasional dengan curahan pesan dukungan dan solidaritas, janji bantuan dan paket bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan senilai puluhan juta dolar.

PBB memperkirakan korban tewas sekitar 6.000 jiwa di seluruh Suriah, termasuk 4.400 kematian dilaporkan di daerah yang dikuasai pemberontak di barat laut.

Badan tersebut juga memperkirakan bahwa gempa berkekuatan 7,8 mempengaruhi sekitar 9 juta warga Suriah. Permohonan bantuan senilai 397 juta dolar AS untuk membantu korban gempa telah diajukan oleh PBB beberapa waktu lalu.

Badan pengungsi PBB mengatakan bahwa hampir 5,3 juta orang mungkin kehilangan tempat tinggal akibat gempa Turkiye dan Suriah itu.

Namun, terlepas dari skala bencana yang dialami negara yang dilanda perang itu, pemerintah Assad lebih peduli dengan bencana ini untuk membuat langkah diplomatik dalam mencapai legitimasi rezimnya. Sebuah rezim yang dijatuhi sanksi oleh AS karena melakukan serangan gas klorin terhadap warga sipil.

Khatib menambahkan, “Prioritas menyoroti keterlibatan para pemimpin internasional dan regional merupakan indikasi pandangan Assad setelah gempa bumi sebagai kesempatan untuk menampilkan dirinya secara internasional dan nasional sebagai pemimpin sah Suriah.”

Sementara itu, Siccardi menambahkan, “Assad… sedang menghitung setiap langkah untuk memaksimalkan keuntungannya dan menjauh dari statusnya sebagai paria internasional. Assad akan membuat konsesi sesuai keinginannya dalam hal ini.”

Sumber: Al Arabiya English

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan