‘Abraham Accord’ sahkan hubungan UEA-Bahrain dan Israel

‘Abraham Accord’ sahkan hubungan UEA-Bahrain dan Israel
Duduk dari kiri ke kanan: Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani; Perdana Menteri Israel Benjamin Natanyahu; Presiden Amerika Serikat Donald Trump; dan Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed, pada penandatanganan 'Abraham Accord' yang mensahkan hubungan kedua negara Teluk dengan Israel, di Gedung Putih, Washington, AS pada Selasa (15/9). (tangakapan layar video CNN)

Jakarta (Indonesia Window) – Hubungan diplomatik Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel telah disahkan dengan penandatanganan dokumen ‘perdamaian’ Abraham Accord di Gedung Putih yang berada di ibu kota Amerika Serikat, Washington pada Selasa malam (15/9) waktu setempat.

Penandatanganan tersebut berlangsung di Halaman Selatan Gedung Putih, tempat yang sama di mana Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat menandatangani Oslo Accord pada 1993.

Pada 2020, dokumen Abraham Accord ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed; Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani; dan Perdana Menteri Israel Benjamin Natanyahu.

Presiden AS Donald Trump yang menyaksikan acara tersebut juga turut menandatangani kesepakatan itu.

Abraham Accord adalah tindak lanjut untuk meligitimasi hubungan antartiga negara di wilayah Arab tersebut.

Sebelumnya, pada 13 Agustus lalu, Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA, Muhammad bin Zayid Al-Nahyan, melalui panggilan telepon dengan Presiden AS dan Perdana Menteri Israel sepakat untuk menjalin hubungan bilateral secara penuh bangsa penjajah tersebut.

Pernyataan Putra Mahkota Abu Dhabi itu menjadikan UEA sebagai negara Arab ketiga yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, menyusul Mesir pada 1978 dan Yordania pada 1994.

Dalam proses ‘perdamaian’ antara UEA dan Israel itu, Pemerintah Amerika Serikat yang bertindak sebagai perantara menugaskan Penasihat Senior Presiden AS, Untuk Urusan Timur Tengah, Jared Kushner, sebagai kepala delegasi tingkat atas AS-Israel.

Pada 31 Agustus Kushner mengadakan kunjungan ke UEA dengan penerbangan komersial pertama dari Tel Aviv ke Abu Dhabi, dan bertemu dengan sejumlah pejabat setempat.

Dalam kesepakatan dengan Israel untuk menormalisasi hubungan, UEA meminta imbalan janji agar bangsa penjajah itu tidak mencaplok sebagian besar wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki.

Kepada Kantor Berita UEA (WAM), Kushner meyakini bahwa mungkin dan masuk akal ke-22 negara Arab dapat menormalkan hubungan dengan Israel.

“Semoga berbulan-bulan,” katanya ketika ditanya apakah perlu bertahun-tahun atau berbulan-bulan untuk melihat negara Arab keempat menormalkan hubungan dengan Israel, tanpa mengungkapkan kemungkinan negara itu.

Selanjutnya, tak sampai sebulan setelah UEA menyatakan ‘damai’ dengan Israel, Pemerintah Kerajaan Bahrain menegaskan komitmen yang sama pada 11 September.

Abraham Accord

Abraham Accord menegaskan bahwa dua negara Teluk, UEA dan Bahrain, bergabung dengan Mesir dan Yordania sebagai negara Arab yang memiliki hubungan penuh dengan Israel.

Sebagian isi dokumen tersebut adalah, “Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyadari pentingnya menjaga dan memperkuat perdamaian di Timur Tengah dan seluruh dunia berdasarkan saling pengertian dan hidup berdampingan, serta menghormati martabat dan kebebasan manusia, termasuk kebebasan beragama.”

“Kami mendorong upaya untuk mempromosikan dialog antaragama dan antarbudaya untuk memajukan budaya perdamaian di antara tiga agama Ibrahim dan seluruh umat manusia.”

Dalam dokumen itu para pihak juga menegaskan untuk berusaha mengakhiri radikalisasi dan konflik guna memberikan masa depan yang lebih baik kepada semua anak-anak, dengan mengejar visi perdamaian, keamanan, serta kemakmuran di Timur Tengah dan di seluruh dunia.

“Saya berdiri di sini hari ini untuk mengulurkan tangan perdamaian dan menerima tangan perdamaian,” kata Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed pada acara penandatanganan dokumen tersebut.

Kepada Netanyahu, dia mengatakan, “Terima kasih telah memilih perdamaian dan menghentikan aneksasi wilayah Palestina.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Al-Zayani menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai langkah bersejarah menuju ‘perdamaian sejati dan abadi’.

Dia berharap perjanjian itu akan mengarah pada ‘solusi dua negara yang komprehensif dan abadi untuk rakyat Palestina’.

Selain Abraham Accord, UEA dan Israel juga menandatangani perjanjian ‘perdamaian, hubungan diplomatik, dan normalisasi penuh’.

Bagi Perdana Menteri Israel Netanyahu, penandatanganan Abraham Accord adalah ‘poros sejarah yang menandai fajar baru perdamaian’.

“Pada akhirnya itu bisa mengakhiri konflik Arab-Israel untuk selamanya,” katanya.

Donald Trump membuka upacara hari Selasa itu dengan memuji para pemimpin Israel, UEA, dan Bahrain karena mencapai kesepakatan yang katanya akan ‘berfungsi sebagai dasar untuk perdamaian yang komprehensif di seluruh wilayah’.

“Setelah beberapa dekade perpecahan dan konflik, kami menandai awal Timur Tengah baru,” kata Trump. “Kami di sini siang ini untuk mengubah arah sejarah.”

Sebelumnya, dia mengatakan lima atau enam negara lagi siap untuk membuka hubungan dengan Israel.

Penandatanganan Abraham Accord dihadiri 700 orang, termasuk mantan duta besar AS untuk PBB Nikki Haley dan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here