
85 persen energi Indonesia masih berbasis fosil, peneliti BRIN siapkan peta jalan wujudkan ‘Net Zero Emission’

Foto tak bertanggal ini menunjukkan kilang minyak Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur. (Kementerian ESDM RI)
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Riset energi bersih tak cukup berhenti sebagai purwarupa di laboratorium. Agar berdampak, inovasi harus bisa melewati tahap pengembangan dan masuk ke pasar.
Tantangan ini menjadi salah satu fokus Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat energi fosil masih mendominasi 85 persen bauran energi nasional.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, menyampaikan hal itu dalam ‘Energy Leadership and Business Conference’ (ELBC) 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Jumat (30/10), dikutip dari situs jejaring BRIN, Sabtu.
Dia menilai riset, inovasi, dan kepemimpinan merupakan fondasi penting untuk mempercepat transisi energi.
Menurut Nunung, pertumbuhan tak bisa hanya mengandalkan modal dan sumber daya alam. Indonesia juga perlu meningkatkan ‘Total Factor Productivity’ (TFP), yang mencerminkan kemajuan teknologi, inovasi, perbaikan manajemen, dan efisiensi kelembagaan.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan modal dan sumber daya alam. Harus ada faktor penting yang mendorong pertumbuhan, yaitu inovasi dan kapasitas kelembagaan yang efisien,” ujarnya.
Peralihan energi, kata Nunung, tak bisa dikerjakan secara terpisah oleh masing-masing sektor. Infrastruktur energi fosil dapat membuat ketergantungan sulit diputus atau menciptakan lock-in.
Efisiensi energi juga bisa diikuti kenaikan konsumsi yang mengurangi penghematan—dikenal sebagai rebound effect.
Di sisi lain, biaya investasi awal yang tinggi menjadi tantangan bagi proyek dan teknologi baru.
Karena itu, pemerintah, lembaga riset, dan pelaku usaha perlu bergerak bersama.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. BRIN tidak bisa berjalan sendiri, kementerian tidak bisa berjalan sendiri. Begitu satu subsistem berubah, sistem yang lain harus bergerak. Jadi bergeraknya harus barengan,” tegas Nunung.
Untuk mendukung target ‘Net Zero Emission’ 2060, BRIN menyusun Peta Jalan Riset dan Inovasi Ketahanan Energi dan Keberlanjutan 2026–2029.
Peta jalan ini memiliki lima arah strategis, yakni, integrasi sistem energi, hilirisasi industri, kedaulatan teknologi, transisi yang adil dan berkelanjutan, serta penguatan basis ilmiah.
Nunung menyebut peta jalan tersebut penting untuk mencegah inovasi terjebak dalam ‘The Valley of Death’ atau ‘Lembah Kematian’—tahap ketika hasil penelitian kesulitan berkembang menuju komersialisasi.
Selain memperkuat ekosistem riset, percepatan transisi juga membutuhkan perubahan cara pandang kepemimpinan. Nunung mendorong tiga pergeseran: dari ekstraksi menuju pengelolaan berkelanjutan, dari pola pikir kelangkaan menuju kelimpahan, serta dari orientasi jangka pendek menuju perspektif lintas generasi.
“Indonesia tidak bisa mengimpor masa depan energinya. Mari kita bersama-sama membangun masa depan energi Indonesia melalui pengembangan teknologi, model bisnis, dan pembiayaan yang mendukung transisi energi,” tandasnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Neraca perdagangan Indonesia surplus, capai 2,59 miliar dolar pada Juli 2021
Indonesia
•
18 Aug 2021

Volatilitas akibat penerapan tarif AS jadi faktor meningkatnya pengangguran di Australia
Indonesia
•
21 Jul 2025

Fokus Berita – Komunitas industri dan perdagangan China desak AS setop naikkan tarif barang China
Indonesia
•
17 May 2024

Sektor kurir di China bukukan pertumbuhan solid pascaliburan Tahun Baru Imlek
Indonesia
•
04 Feb 2023


Berita Terbaru

Feature – Kesepian jadi peluang bisnis, pasar mainan AI China tumbuh pesat, tembus 2,32 triliun rupiah
Indonesia
•
01 Nov 2026

Malaysia rugi 35,7 triliun rupiah akibat karhutla, 1.600 kematian dikaitkan dengan asap lintas batas
Indonesia
•
30 Oct 2026

Perubahan iklim ancam pangan Asia Tenggara, produksi padi turun 5 persen, jagung 6 persen
Indonesia
•
30 Oct 2026

Fokus Berita – SANY Indonesia Finance bidik pelanggan konstruksi dan tambang, siapkan perluasan jaringan di Tanah Air
Indonesia
•
30 Oct 2026
