Perubahan iklim ancam pangan Asia Tenggara, produksi padi turun 5 persen, jagung 6 persen

Foto dari udara yang diabadikan pada 24 Oktober 2026 ini memperlihatkan areal persawahan terendam banjir di Desa Krueng Seupeng, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. (Xinhua/Fachrul Reza)

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Perubahan iklim diproyeksikan mengurangi produksi sejumlah tanaman pertanian utama di seluruh Asia Tenggara, dengan padi, jagung, dan tebu menghadapi penurunan, menurut sebuah studi yang dirilis pada Kamis (29/10) oleh Badan Pangan Singapura dan Universitas Nasional Singapura.

Studi ASEAN Agri Climate Impact Twenty memproyeksikan rata-rata produksi padi akan turun 3 hingga 5 persen selama periode 2025 hingga 2044, sementara output jagung berpotensi turun 5 hingga 6 persen dan produksi tebu turun 1 hingga 4 persen.

Sebaliknya, produksi singkong diproyeksikan meningkat sebesar 16 persen, sementara output kedelai berpotensi meningkat 11 hingga 13 persen.

"Proyeksi rata-rata yang lebih baik untuk beberapa tanaman pertanian tidak berarti tanaman-tanaman tersebut terbebas dari risiko-risiko terkait iklim. Produksi tetap dapat dipengaruhi oleh variabilitas kondisi iklim pada tahun tertentu termasuk panas ekstrem, curah hujan tinggi, atau kekeringan pada tahun dengan kondisi yang tidak menguntungkan," urai laporan tersebut.

Fenomena El Nino yang sangat kuat dapat mengurangi rata-rata produksi tanaman di seluruh kawasan tersebut hingga sekitar 10 persen, demikian temuan studi itu. Sistem pertanian padi dan pertanian tadah hujan umumnya lebih rentan terhadap fenomena semacam itu.

Secara keseluruhan, Asia Tenggara diperkirakan mengalami peningkatan suhu, gelombang panas yang lebih sering terjadi dan berkepanjangan, serta curah hujan yang semakin bervariasi, sehingga berpotensi mengganggu ketersediaan air, jadwal penanaman, dan hasil panen.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait