
Fokus Berita – SANY Indonesia Finance bidik pelanggan konstruksi dan tambang, siapkan perluasan jaringan di Tanah Air

Sejumlah karyawan bekerja di kawasan industri SANY, produsen alat berat terkemuka Tiongkok, di Changsha, Provinsi Hunan, China tengah, pada 12 Mei 2026. (Xinhua/Xue Yuge)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – PT SANY Indonesia Finance, yang resmi beroperasi pada Kamis (29/10), menyiapkan strategi penguatan permodalan untuk mengimbangi potensi pertumbuhan bisnis pembiayaan seiring dengan ekspansi ekosistem SANY Group di Indonesia.
CEO PT SANY Indonesia Finance Bryan Kasenda mengatakan bahwa modal awal sekitar 250 miliar rupiah yang diperoleh dari perusahaan induk kemungkinan perlu ditambah dalam jangka menengah dan panjang untuk menopang kebutuhan pembiayaan serta menjaga kepatuhan terhadap ketentuan regulator.
Menurut Bryan, pesatnya pertumbuhan bisnis SANY Group di Indonesia turut membuka peluang peningkatan kebutuhan pembiayaan, sehingga perusahaan perlu mengantisipasi kebutuhan tambahan modal agar kapasitas bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Kami berpikir bahwa modal ini tidak cukup untuk jangka menengah dan panjang. Pertumbuhan penjualan SANY Group sendiri sangat pesat di industri, sehingga kami harus bisa menyeimbangkan atau mengikuti pertumbuhan tersebut," ujar Bryan dalam sesi wawancara khusus dengan Xinhua di Jakarta.
SANY Indonesia Finance resmi memulai operasional bisnisnya pada Kamis setelah mengantongi izin usaha perusahaan pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berdasarkan Keputusan Nomor KEP-56/D.06/2026 tanggal 14 September 2026.
Dalam peluncuran tersebut, SANY Indonesia Finance menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan delapan bank, yaitu Maybank Indonesia, HSBC Indonesia, Bank of China, BRI, OCBC Indonesia, SMBC Indonesia, BNP Paribas, dan UOB Indonesia, sebagai bagian dari upaya membangun kemitraan di sektor keuangan.
Pada kesempatan yang sama, perusahaan itu juga menandatangani dokumen perjanjian pembiayaan dengan perwakilan klien.
Bryan menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan utama perusahaan itu dalam menyiapkan penguatan modal adalah ketentuan gearing ratio atau rasio pengungkit yang ditetapkan OJK.
Rasio tersebut membandingkan total pinjaman yang diterima perusahaan pembiayaan dengan modal sendiri.
Dengan struktur permodalan saat ini, SANY Indonesia Finance memperkirakan akan mendekati batas atas rasio pengungkit yang diperkenankan dalam kurun waktu sekitar satu tahun lebih, seiring dengan perkembangan bisnis perusahaan tersebut.
Ketentuan OJK membatasi gearing ratio perusahaan pembiayaan paling tinggi 10 kali.
"Kami berpikir bahwa dengan modal kami sekarang, kami akan bisa mencapai gearing ratio hanya dalam waktu satu tahun lebih. Kami akan berada di ambang atas batas yang dapat diterima OJK sehingga harus melakukan injeksi modal lagi agar tetap mematuhi ketentuan," tutur Bryan.
Sehubungan dengan hal tersebut, perusahaan itu mempertimbangkan kemungkinan melakukan aksi korporasi untuk memperkuat struktur permodalan dan mengantisipasi peningkatan kebutuhan pembiayaan.
Menurut Bryan, langkah penguatan modal diperlukan agar perusahaan dapat mengikuti perkembangan bisnis SANY Group tanpa mengabaikan ketentuan regulator maupun prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan usaha.
Dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, SANY Indonesia Finance akan berfokus pada pembiayaan investasi secara langsung kepada pelanggan, terutama mereka yang membeli produk alat berat melalui jaringan diler SANY.
"Kami lebih fokus ke pembiayaan investasi, pembiayaan langsung kepada pelanggan. Jadi, ketika pelanggan melakukan pemesanan melalui diler kami dan memilih menggunakan pembiayaan, maka kami akan masuk untuk memberikan dukungan," tuturnya.
Model bisnis tersebut diharapkan dapat melengkapi ekosistem penjualan SANY Group di Indonesia dengan menyediakan alternatif pembiayaan bagi pelanggan yang membutuhkan alat berat untuk mendukung kegiatan usaha mereka.
Kepatuhan dan manajemen risiko
Di tengah rencana ekspansi, SANY Indonesia Finance menempatkan kepatuhan terhadap regulasi sebagai salah satu prioritas utama dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Bryan menyampaikan bahwa perusahaan itu berkomitmen memenuhi seluruh ketentuan OJK, termasuk kewajiban pelaporan secara tepat waktu, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta penguatan sistem manajemen risiko.
Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan telah menyiapkan sumber daya manusia yang berkompetensi di bidang kepatuhan dan tengah menyempurnakan prosedur internal agar seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai ketentuan.
Dia menekankan bahwa peningkatan penjualan dan penyaluran pembiayaan harus diimbangi dengan kesiapan sistem internal, sumber daya manusia, serta pengelolaan risiko.
"Jangan sampai penjualan kami naik, tetapi aspek lainnya tertinggal sehingga prosedur menjadi sulit dan kami justru kurang patuh. Karena itu, kami berusaha memastikan seluruh prosedur dan sistem yang diperlukan sudah siap ketika bisnis mulai bertumbuh," ujarnya.
Bryan, yang juga mengantongi sertifikat di bidang manajemen risiko, menyampaikan bahwa perusahaan ingin membangun fondasi tata kelola yang kuat sejak awal agar pertumbuhan bisnis tidak menimbulkan kendala dalam pemenuhan kewajiban terhadap regulator.
Jangkauan bisnis seiring ekspansi
Pada tahap awal operasionalnya, SANY Indonesia Finance masih memusatkan kegiatan bisnis di Jakarta dan wilayah di sekitarnya.
Namun, perusahaan membuka peluang memperluas jangkauan geografis mengikuti perkembangan jaringan diler SANY Group di berbagai daerah di Indonesia.
Bryan mengatakan salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah mendirikan kantor cabang di wilayah yang memiliki jaringan diler SANY sehingga perusahaan dapat memberikan dukungan pembiayaan secara lebih dekat kepada pelanggan.
"Untuk jangka menengah dan panjang, dengan target dan akselerasi ekspansi SANY Group yang cukup pesat, kami juga harus memikirkan bagaimana cara untuk memperluas bisnis. Apakah dengan mendirikan cabang di daerah tempat diler-diler SANY berada atau melalui strategi lainnya," papar Bryan.
Selain memperluas jangkauan geografis, perusahaan juga melihat peluang untuk mengembangkan basis pelanggan di luar ekosistem SANY, termasuk perusahaan lokal yang bergerak di sektor konstruksi dan pertambangan.
Meski demikian, Bryan menegaskan bahwa perusahaan akan mengutamakan pelanggan dengan profil risiko yang sesuai dengan toleransi risiko atau risk appetite perusahaan.
Dia mengatakan bahwa pengembangan pasar akan dilakukan secara bertahap setelah perusahaan memiliki fondasi bisnis yang kuat. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penyaluran pembiayaan dan kualitas portofolio perusahaan.
Sebagai bagian dari ekosistem SANY Group, SANY Indonesia Finance juga melihat peluang untuk mendukung berbagai rencana investasi grup di Indonesia, termasuk pengembangan industri dan hilirisasi.
Sebelumnya, pada awal September, jajaran SANY Group dan SANY Indonesia Finance bertemu Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji di Samarinda dan memaparkan rencana dukungan terhadap pengembangan hilirisasi di provinsi tersebut.
Terkait hal tersebut, Bryan mengatakan SANY Indonesia Finance pada prinsipnya mendukung program investasi grup. Namun, keterlibatan perusahaan dalam setiap proyek akan tetap mempertimbangkan kesesuaian dengan strategi bisnis dan profil risiko pembiayaan.
Dia menegaskan bahwa keberadaan perusahaan dalam satu grup tidak secara otomatis menjadikan SANY Indonesia Finance membiayai seluruh proyek investasi yang dijalankan oleh SANY Group.
"Ketika ada program-program dari SANY, kami akan melihat seberapa besar kami dapat memberikan dukungan. Itu sudah pasti berhubungan dengan profil risiko kami. Kami akan melakukan kajian terlebih dahulu dan jika sesuai dengan risk appetite, maka kami dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi," tutur Bryan.
Menurut Bryan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menerapkan tata kelola dan mitigasi risiko yang baik sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Selain mendukung kebutuhan pembiayaan investasi, Bryan mengatakan ekosistem SANY Group juga berupaya memberikan kontribusi terhadap pengembangan industri yang lebih ramah lingkungan di Indonesia.
Dia menjelaskan SANY Group telah menghadirkan berbagai produk alat berat yang mendukung agenda dekarbonisasi atau pengurangan emisi, termasuk teknologi yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah pelanggan di Indonesia bahkan telah melakukan pemesanan terhadap produk-produk tersebut.
SANY Indonesia Finance menyatakan kesiapan untuk mendukung pembiayaan produk-produk tersebut selama memenuhi pertimbangan kelayakan dan profil risiko perusahaan.
Bryan menilai kehadiran SANY di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penyediaan produk alat berat, tetapi juga dukungan terhadap kebutuhan pemerintah dan pelaku industri melalui solusi teknologi yang beragam.
Lebih lanjut, dia berharap dukungan pemerintah, OJK, dan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dapat terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri pembiayaan yang kondusif.
Menurut Bryan, keterbukaan regulator terhadap masukan dari pelaku industri serta peran asosiasi dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan dapat mendorong perusahaan pembiayaan meningkatkan kapasitas investasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kami berharap peran pemerintah maupun asosiasi dapat terus berjalan dengan baik dan ditingkatkan sehingga dapat mendukung kami untuk berinvestasi lebih besar lagi di industri pembiayaan," kata Bryan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kualitas dan inovasi pikat pembeli global di Canton Fair
Indonesia
•
03 May 2023

Kinerja manufaktur Indonesia capai ekspansi terkuat dalam 29 bulan
Indonesia
•
02 Apr 2024

Sekjen PBB tekankan peran pemuda dalam dorong aksi iklim dan bentuk masa depan perkotaan
Indonesia
•
02 Nov 2024

Jumlah investor saham baru bertambah 1 juta SID sepanjang 2021
Indonesia
•
02 Sep 2021


Berita Terbaru

Feature – Kesepian jadi peluang bisnis, pasar mainan AI China tumbuh pesat, tembus 2,32 triliun rupiah
Indonesia
•
01 Nov 2026

Malaysia rugi 35,7 triliun rupiah akibat karhutla, 1.600 kematian dikaitkan dengan asap lintas batas
Indonesia
•
30 Oct 2026

Perubahan iklim ancam pangan Asia Tenggara, produksi padi turun 5 persen, jagung 6 persen
Indonesia
•
30 Oct 2026

Negara produsen sawit kuasai 89 persen pasokan global, Indonesia perkuat kerja sama dengan China
Indonesia
•
31 Oct 2026
