136 kapal komersial diserang di Laut Hitam, ancaman terhadap perdagangan global kian meningkat

Seekor kucing beristirahat di pesisir Laut Marmara, dengan sebuah kapal terlihat berlabuh di perairan di dekatnya, di Istanbul, Turkiye, pada 25 November 2025. (Xinhua/Liu Lei)

Istanbul, Turkiye (Xinhua/Indonesia Window) – Eskalasi serangan terhadap kapal-kapal niaga di Laut Hitam di tengah konflik Rusia-Ukraina memicu kekhawatiran atas perdagangan regional dan keamanan maritim, memantik seruan baru bagi dunia internasional untuk mengambil tindakan.

Menyoroti ancaman yang terus meningkat itu, Asosiasi Pemilik Kapal Turki (Turkish Shipowners' Association) melaporkan bahwa "136 kapal komersial mengalami serangan di pelabuhan-pelabuhan Rusia dan Ukraina, serta lokasi-lokasi lain di Laut Hitam dalam beberapa bulan terakhir."

Menggambarkan risiko keamanan itu telah mencapai tingkat yang "tidak dapat diterima", asosiasi itu mengimbau para anggotanya untuk tidak melakukan pelayaran ke pelabuhan-pelabuhan Rusia dan Ukraina, mendesak mereka agar menerapkan sikap "menunggu dan melihat perkembangan" (wait and see) terhadap kontrak pengangkutan kargo baru.

Asosiasi tersebut juga menyerukan kepada Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO), badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait, dan otoritas nasional maupun internasional lainnya untuk segera mengambil langkah guna mencegah serangan lebih lanjut terhadap kapal-kapal komersial.

"Ini bukan sekadar masalah bagi negara-negara pesisir Laut Hitam," ungkap Baris Doster, analis hubungan internasional di Universitas Marmara Turkiye, kepada Xinhua. "Ini merupakan isu global yang memengaruhi seluruh negara yang berdagang dengan negara-negara di kawasan tersebut, terlepas dari bendera apa yang dikibarkan oleh kapal-kapal itu."

Serangan-serangan tersebut mendatangkan konsekuensi buruk bagi keamanan, stabilitas, dan perekonomian regional, ujar Doster. Dia mendorong pembentukan inisiatif regional, dan menyebut bahwa akan lebih baik bagi negara-negara pesisir Laut Hitam untuk bekerja sama dalam mengatasi isu tersebut.

Dampak tersebut mulai dirasakan di seluruh industri pelayaran kawasan Timur Tengah, menciptakan hambatan yang kian memburuk.

Berdasarkan data Asosiasi Pemilik dan Operator Kapal (Association of Shipowners and Operators), dari total 759 kapal curah berukuran kecil (mini-bulker) yang beroperasi di Laut Hitam, 312 di antaranya saat ini berada dalam kondisi tanpa muatan.

Stagnasi ini berdampak langsung terhadap para pengekspor di Turkiye. Presiden Majelis Pengekspor Turkiye Mustafa Gultepe memperingatkan bahwa eskalasi serangan terhadap kapal-kapal komersial menimbulkan risiko yang kian besar bagi perdagangan regional, sembari menyatakan bahwa 57,4 persen ekspor Turkiye ke Rusia dan 35 persen ekspornya ke Ukraina bergantung pada transportasi maritim.

"Hambatan logistik maritim berisiko memengaruhi sektor-sektor ekspor unggulan kami ke Rusia, yaitu bahan kimia, buah dan sayuran segar dan mesin, serta pengiriman kami ke Ukraina, terutama sektor bahan kimia, baja dan elektronik," papar Gultepe. "Mengingat tren yang membahayakan ini, sangat krusial untuk mengakselerasi berbagai inisiatif dengan negara-negara terkait."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait