
20 persen air keran di Jepang terkontaminasi zat kimia PFAS

Foto yang diabadikan pada 15 November 2023 ini menunjukkan orang-orang berjalan melewati sebuah persimpangan di Tokyo, Jepang. (Xinhua/Zhang Xiaoyu)
Zat kimia perfluoroalkil dan polifluoroalkil (per- and poly-fluoroalkyl substances/PFAS) yang berpotensi berbahaya telah terdeteksi pada sekitar 20 persen air keran di Jepang.
Tokyo, Jepang (Xinhua) – Zat kimia perfluoroalkil dan polifluoroalkil (per- and poly-fluoroalkyl substances/PFAS) yang berpotensi berbahaya telah terdeteksi pada sekitar 20 persen air keran di Jepang. Meskipun demikian, tidak ada sampel yang mengandung jumlah maksimum zat tersebut yang diperbolehkan untuk sementara waktu yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti dilaporkan media setempat.Dalam survei komprehensif pertama pemerintah yang bahkan mencakup perusahaan-perusahaan kecil penyedia air bersih, zat kimia itu terdeteksi pada sampel air dari 332 perusahaan air di 46 dari 47 prefektur di Jepang, dari total 1.745 perusahaan yang disurvei, lapor Kyodo News pada Jumat (29/11).PFAS merupakan istilah umum untuk sekelompok 10.000 lebih zat kimia artifisial, termasuk asam perfluorooctane sulfonate atau PFOS, dan asam perfluorooctanoate atau PFOA, dua jenis PFAS yang paling representatif.Pemerintah Jepang saat ini menetapkan batas sementara untuk kedua zat kimia tersebut dengan total 50 nanogram per liter untuk air keran dan sungai.Tidak ada sampel yang mengandung zat itu yang secara total melebihi 50 nanogram, tetapi sampel dari tiga fasilitas air minum di Prefektur Aichi, Prefektur Nagasaki, dan Hokkaido ditemukan mengandung antara 47 hingga 49 nanogram zat kimia tersebut, menurut survei itu.Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang melakukan survei antara Mei dan September. Hasil dari air yang dipasok secara eksklusif untuk fasilitas tertentu belum difinalisasi.PFAS, yang digunakan dalam berbagai produk seperti peralatan masak anti lengket dan pakaian anti air, dikenal dengan sebutan forever chemicals karena sangat bertahan lama di lingkungan dan tubuh manusia, serta dapat terakumulasi dan menyebabkan masalah kesehatan karena memiliki komponen yang terurai dengan sangat lambat dari waktu ke waktu.Pemerintah Jepang telah melakukan survei air keran yang berfokus pada penanganan PFAS sejak 2020 setelah zat yang banyak digunakan dan bersifat tahan lama itu terdeteksi di pabrik-pabrik penyaringan dan sungai-sungai di seluruh negara tersebut, serta meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan keterkaitan zat itu dengan risiko kanker.Dalam survei-survei sebelumnya, kasus di mana tingkat PFAS melebihi 50 nanogram mencapai 11 kasus pada tahun fiskal 2020, lima kasus pada tahun fiskal 2021, empat kasus pada tahun fiskal 2022, dan tiga kasus pada tahun fiskal 2023, ungkap laporan tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Generasi muda China dan Arab berkontribusi pada pertukaran bilateral
Indonesia
•
09 Jan 2023

WHO: Kasus COVID-19 akan capai 1 juta
Indonesia
•
02 Apr 2020

Arab Saudi akan luncurkan 'museum terbang' pertama di dunia
Indonesia
•
02 Nov 2021

1.200 orang terpaksa mengungsi akibat karhutla di California Selatan, AS
Indonesia
•
18 Jun 2024


Berita Terbaru

Feature – Universitas di Iran tetap jalankan misi pendidikan di tengah pengeboman
Indonesia
•
08 Apr 2026

Feature – Si miskin Zhang Xue ciptakan sepeda motor balap yang menangkan kejuaraan dunia
Indonesia
•
08 Apr 2026

Feature – Mau anak lebih cerdas, ajari bahasa ibu sejak dini
Indonesia
•
06 Apr 2026

Feature – Warga Indonesia di China rasakan kedekatan dengan budaya Qingming
Indonesia
•
06 Apr 2026
