
Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Beijing, lakukan ‘hackathon’ pemodelan Bumi

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 19 Maret 2024 ini menunjukkan para pekerja sedang menanam bibit Caragana di cagar alam nasional Baijitan di Lingwu, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua/Wang Peng)
World Climate Research Programme (WCRP), WCRP Global KM-Scale Hackathon 2025 bertujuan untuk mendorong kerja sama dan inovasi lintas perbatasan.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Beijing, China, pada pekan ini dalam acara Global KM-Scale Hackathon Beijing. Acara ini diadakan guna membahas tantangan-tantangan yang mendesak dalam ilmu iklim melalui pemodelan Bumi yang mutakhir dan kolaborasi internasional.Digelar di Institut Fisika Atmosfer (Institute of Atmospheric Physics/IAP) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), acara tersebut berlangsung selama lima hari, yakni dari Senin (12/5) hingga Jumat (16/5).Diselenggarakan oleh World Climate Research Programme (WCRP), WCRP Global KM-Scale Hackathon 2025 bertujuan untuk mendorong kerja sama dan inovasi lintas perbatasan.Ilmuwan dari sembilan ‘cabang’, termasuk Beijing di China, Hamburg di Jerman, Boulder dan Colorado di Amerika Serikat, Tokyo di Jepang, dan Oxford di Inggris, bersama-sama menganalisis simulasi beresolusi tinggi yang dihasilkan oleh model sistem Bumi/iklim terkemuka untuk memajukan pemodelan sistem Bumi generasi berikutnya.Dengan memanfaatkan infrastruktur ilmiah nasional China, yakni Fasilitas Simulasi Numerik Sistem Bumi, Global KM-Scale Hackathon di Beijing difokuskan pada isu-isu iklim utama, seperti monsun Asia, curah hujan ekstrem, topan abnormal, iklim Pan-Kutub Ketiga (Pan-Third Pole), serta gabungan peristiwa suhu tinggi dan kekeringan."Seiring meningkatnya iklim ekstrem, pemodelan skala kilometer menawarkan level yang detailnya tak tertandingi dalam memahami fenomena regional maupun global," kata Cao Junji, seorang profesor di IAP. "Hackathon ini menjadi contoh bagaimana komunitas ilmiah global dapat menerangi jalan menuju ketahanan di era ketidakpastian iklim."Cao menambahkan bahwa acara ini juga menyoroti peran China yang kian besar dalam menggerakkan inovasi di bidang ilmu iklim.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Rafflesia patma mekar di Kebun Raya Bogor
Indonesia
•
15 Sep 2019

Haji1441 - Layanan Robot Fatwa bagi jamaah tingkatkan protokol kesehatan
Indonesia
•
30 Jul 2020

Peneliti kembangkan masker digital untuk fasilitasi diagnosis anonim dan perlindungan privasi
Indonesia
•
27 Sep 2022

Studi sebut vaksin COVID-19 bukan penyebab kematian mendadak di India
Indonesia
•
25 Nov 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
