
Warga sipil di Lebanon terus jadi sasaran serangan meski ada gencatan senjata

Tim penyelamat memeriksa puing-puing kendaraan yang ringsek akibat serangan udara Israel di Jiyeh, Lebanon, pada 13 Mei 2026. (Xinhua/Ali Hashisho)
Serangan yang menimpa warga sipil dan petugas garda depan Lebanon terus dilaporkan terjadi setiap hari, di tengah pemberlakukan gencatan senjata.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Meski gencatan senjata telah berlangsung hampir sebulan, serangan yang menimpa warga sipil dan petugas garda depan Lebanon terus dilaporkan terjadi setiap hari, kata para pekerja kemanusiaan PBB pada Kamis (14/5).
Rentetan serangan drone terhadap mobil-mobil di daerah Jiyeh, sekitar 20 kilometer di selatan Beirut, ibu kota Lebanon, menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk dua anak-anak, pada Rabu (13/5), ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengutip data dari otoritas Lebanon.
Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, sedikitnya 2.896 orang tewas, termasuk 200 anak-anak, dan lebih dari 8.000 orang luka-luka sejak eskalasi serangan terbaru dimulai pada 2 Maret, kata OCHA.
Kantor tersebut mengatakan jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi juga terus bertambah di seluruh Lebanon menyusul memburuknya situasi keamanan. Hampir 130.000 orang saat ini berlindung di 632 tempat penampungan kolektif.
Menurut OCHA, perintah evakuasi baru telah dikeluarkan untuk delapan desa di Lebanon selatan dan Kegubernuran Bekaa, yang memicu pergerakan pengungsi lebih lanjut.
"Mitra kemanusiaan melaporkan baik keluarga yang baru mengungsi maupun mereka yang kembali ke tempat penampungan turut berkontribusi terhadap peningkatan jumlah pengungsi tersebut," papar OCHA. "Ketidakamanan dan luasnya kerusakan terus menghambat proses kepulangan yang aman dan berkelanjutan bagi pengungsi," imbuh badan tersebut lebih lanjut.
OCHA menyebut akses terhadap bantuan kemanusiaan dan pasokan masih memungkinkan namun terbatas, terutama di Lebanon selatan, di mana jalan dan jembatan yang rusak, amunisi yang belum meledak, puing-puing akibat konflik, dan ketidakamanan terus menghambat mobilitas dan pemulihan sektor layanan penting.
Sejak eskalasi ketegangan dimulai, 132 pergerakan bantuan kemanusiaan yang membawa pasokan penting telah difasilitasi, tutur OCHA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Lebih dari 26 juta orang di Arab Saudi telah divaksinasi
Indonesia
•
01 Aug 2021

Analis: Presiden Assad manfaatkan bencana gempa untuk tarik simpati dunia
Indonesia
•
19 Feb 2023

Kabut asap diprediksi bertahan hingga 2027, Malaysia siapkan bantuan untuk Indonesia
Indonesia
•
23 Sep 2026

Kepala Eksekutif SAR Hong Kong John Lee sampaikan pidato kebijakan pertama
Indonesia
•
20 Oct 2022


Berita Terbaru

Telaah – Tiga tahun berlalu: Gaza hancur, 74.000 lebih tewas, mengapa perdamaian masih jauh?
Indonesia
•
08 Oct 2026

3 tahun berlalu, Israel masih memburu pelaku 7 Oktober: 2.000 orang disebut masih hidup
Indonesia
•
07 Oct 2026

Dari warisan apartheid hingga politik ras, ini sumber ketegangan AS–Afsel
Indonesia
•
07 Oct 2026

Pembongkaran bangunan di Yerusalem Timur catatkan rekor pengungsi terbanyak
Indonesia
•
07 Oct 2026
