
Wakil Sekjen PBB serukan partisipasi perempuan dalam pembangunan perdamaian

Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amina Mohammed (kiri) berbicara dalam peluncuran "The 2022 Financing for Sustainable Development Report: Bridging the Finance Divide" di markas besar PBB di New York City pada 12 April 2022. (Xinhua/Xie E)
Partisipasi perempuan dalam pembangunan perdamaian mendapat dorongan dari Wakil Sekjen PBB, menekankan bahwa perempuan "telah memainkan peran penting dalam mengubah cara kita mengambil pendekatan terhadap perdamaian dan keamanan selama 20 tahun terakhir."
PBB (Xinhua) – Komunitas internasional harus meningkatkan upaya untuk mempromosikan partisipasi perempuan dalam pencegahan konflik dan pembangunan perdamaian, demikian disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amina Mohammed pada Kamis (20/10).Partisipasi perempuan di semua tingkatan "telah memainkan peran penting dalam mengubah cara kita mengambil pendekatan terhadap perdamaian dan keamanan selama 20 tahun terakhir," sebut Mohammed dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB yang mengusung tema "Memperkuat Ketangguhan dan Kepemimpinan Perempuan sebagai Jalan menuju Perdamaian di Daerah yang Diganggu Kelompok Bersenjata" (Strengthening Women's Resilience and Leadership as a Path to Peace in Regions Plagued by Armed Groups)."Ketika kita membuka pintu untuk inklusi dan partisipasi, kita mengambil sebuah langkah maju yang besar dalam pencegahan konflik dan pembangunan perdamaian," ujarnya.Terlepas dari beberapa dekade yang membuktikan bahwa kesetaraan gender memberikan jalur menuju perdamaian berkelanjutan dan pencegahan konflik, "kita (justru) bergerak ke arah yang berlawanan," kata Mohammed, menambahkan bahwa "kemajuannya lambat."Antara 1995 dan 2019, perempuan rata-rata hanya menyumbang 13 persen dari negosiator, 6 persen mediator, dan 6 persen penanda tangan dalam proses perdamaian utama, urai Mohammed.Partisipasi perempuan dalam proses perdamaian, dan pengaruh atas keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka, masih tertinggal jauh, menciptakan penghalang nyata bagi perdamaian yang inklusif, mampu bertahan lama, serta berkelanjutan, ujarnya.Wakil sekjen PBB menyerukan untuk membongkar norma-norma patriarki yang mengecualikan perempuan dari kekuasaan, mengedepankan lebih banyak mediator dan negosiator perempuan, serta mengamankan pembiayaan yang lebih besar dan lebih dapat diprediksi untuk para wanita pembangun perdamaian di garis depan."Kita membutuhkan kesetaraan gender secara penuh, termasuk melalui kuota khusus untuk mempercepat inklusi perempuan, di seluruh pemantauan pemilu, reformasi sektor keamanan, perlucutan senjata, demobilisasi, dan sistem peradilan," katanya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PT IMIP akan salurkan beasiswa ke 1.000 mahasiswa Indonesia
Indonesia
•
29 Aug 2024

Temu alumni program pelatihan China digelar di Jakarta, perkuat kerja sama Indonesia-China
Indonesia
•
13 Jun 2026

Lebih dari 210.000 orang di Iran berobat akibat polusi udara dalam 10 hari
Indonesia
•
04 Dec 2025

Perpustakaan digital di China terangi dunia para penyandang tunanetra
Indonesia
•
24 Nov 2022


Berita Terbaru

Pekerja Singapura pengguna AI paling aktif dan bertanggung jawab di dunia
Indonesia
•
17 Jun 2026

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026

Feature – Mengenal yoga 'Made in Indonesia' yang sarat filosofi Jawa
Indonesia
•
15 Jun 2026
