
Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab terkait kecanduan media sosial di AS

Ilustrasi. (CardMapr.nl on Unsplash)
Meta Platforms dan YouTube milik Google lalai dalam mendesain dan mengoperasikan produknya, serta gagal memberikan peringatan yang memadai kepada pengguna tentang bahaya yang terkait dengan YouTube dan Instagram yang dinaungi Meta.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Dewan juri di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), pada Rabu (25/3) memutuskan bahwa Meta Platforms dan YouTube milik Google bertanggung jawab dalam persidangan terkait kasus "kecanduan media sosial", di mana seorang wanita mengeklaim depresi dan kecemasannya berasal dari penggunaan media sosial secara kompulsif sejak masih kecil.
Menurut media setempat, juri memutuskan bahwa kedua perusahaan tersebut lalai dalam mendesain dan mengoperasikan produknya, serta mengatakan perusahaan-perusahaan tersebut gagal memberikan peringatan yang memadai kepada pengguna tentang bahaya yang terkait dengan YouTube dan Instagram yang dinaungi Meta.
Para juri juga menemukan bahwa kelalaian tersebut merupakan "faktor substansial" yang menyebabkan kerugian bagi penggugat dan memberikan ganti rugi kompensasi sebesar 3 juta dolar AS, dengan pembagian tanggung jawab 70 persen untuk Meta dan 30 persen untuk YouTube. Selain itu, ganti rugi tambahan sebesar 3 juta dolar AS sebagai hukuman juga dijatuhkan kepada perusahaan-perusahaan itu, dengan Meta menanggung 70 persen dari jumlah tersebut, menurut laporan.
*1 dolar AS = 16.905 rupiah
Kedua perusahaan mengindikasikan ketidaksetujuan atas putusan tersebut dan akan mengajukan banding.
"Kesehatan mental remaja sangat kompleks dan tidak dapat dikaitkan dengan satu aplikasi saja," demikian disampaikan juru bicara Meta, seperti dikutip oleh NBC News. "Kami akan terus membela diri dengan gigih karena setiap kasus berbeda, dan kami tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara daring."
Meta dan Google telah lama membantah bahwa produk-produk mereka pada dasarnya bersifat adiktif sehingga menimbulkan tanggung jawab hukum, berargumen mereka menyediakan alat-alat bagi orangtua dan remaja, menerbitkan penelitian tentang keamanan, dan mematuhi peraturan yang ada.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kisah – Pertanian hutan jadi resor musim dingin terkenal di China timur laut
Indonesia
•
04 Jan 2023

COVID-19 - UEA distribusi seribu ton alat pelindung bagi 1 juta tenaga medis dunia
Indonesia
•
30 Jun 2020

Lebih dari 600.000 pengungsi Ukraina telah masuki Rumania sejak invasi Rusia
Indonesia
•
02 Apr 2022

COVID-19 – Turki akan luncurkan vaksin domestik pada April 2021
Indonesia
•
26 Nov 2020


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
