
Peneliti China temukan spesies cumi-cumi vampir baru

Foto yang diabadikan pada 13 September 2016 ini menunjukkan spesimen yang mirip dengan Vampyroteuthis infernalis yang dikumpulkan dari kedalaman antara 800 hingga 1.000 meter di Laut China Selatan pada September 2016. (Xinhua/Institut Oseanologi Laut China Selatan, Akademi Ilmu Pengetahuan China)
Vampyroteuthis infernalis pertama kali dideskripsikan oleh ahli biologi kelautan Jerman Carl Chun pada 1903, dan spesies ini biasanya hidup di kedalaman antara 600 hingga 900 meter di samudra Pasifik, Hindia, dan Atlantik yang beriklim sedang dan tropis, di mana konsentrasi oksigen rendah.
Beijing, China (Xinhua) – Para ilmuwan China berhasil mengidentifikasi sebuah spesies cumi-cumi vampir baru, yang merupakan spesies cumi-cumi vampir kedua yang diketahui di dunia.Para peneliti dari Institut Oseanologi Laut China Selatan di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) mengumpulkan sebuah spesimen yang mirip dengan Vampyroteuthis infernalis (V. infernalis) dari kedalaman antara 800 hingga 1.000 meter di Laut China Selatan pada September 2016.Tim peneliti melakukan analisis morfologi dan filogenetik antara spesimen tersebut dengan V. infernalis. Hasilnya menunjukkan bahwa morfologi spesimen tersebut memiliki perbedaan yang signifikan dalam bentuk ekor, paruh bawah, dan posisi fotofor. Analisis filogenetik dari sekuens DNA gen Mitochondrial COI (Cytochrome c Oxidase Subunit I) dan ribosom nuclear large subunit ribosomal (nLSU) menunjukkan adanya perbedaan jarak yang cukup jauh dan pemisahan yang jelas antara spesimen tersebut dengan V. infernalis.Qiu Dajun, penulis utama studi tersebut menjelaskan bahwa V. infernalis pertama kali dideskripsikan oleh ahli biologi kelautan Jerman Carl Chun pada 1903, dan spesies ini biasanya hidup di kedalaman antara 600 hingga 900 meter di samudra Pasifik, Hindia, dan Atlantik yang beriklim sedang dan tropis, di mana konsentrasi oksigen rendah.Spesies baru ini diberi nama Vampyroteuthis pseudoinfernalis Qiu, Liu & Huang, sp. nov. Studi ini dipublikasikan secara daring di jurnal Zoological Systematics.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti di Australia kembangkan cip AI berkecepatan cahaya untuk pangkas penggunaan energi
Indonesia
•
11 Mar 2026

Fokus Berita – Pemimpin media dunia bahas peluang dan tantangan AI di bidang jurnalistik
Indonesia
•
04 Dec 2023

Gua-gua China yang terdaftar di UNESCO adopsi jaringan pemantauan gempa canggih
Indonesia
•
19 May 2025

China sukses luncurkan satelit relai Queqiao-2 untuk eksplorasi Bulan di masa depan
Indonesia
•
13 Apr 2024


Berita Terbaru

Jejak tsunami purba ditemukan dari Banten hingga Bali, diduga terjadi 400 tahun lalu
Indonesia
•
09 Jun 2026

Eksperimen 7 hari di luar angkasa bisa membantu jutaan penderita ‘fatty liver’
Indonesia
•
09 Jun 2026

Hewan laut ini bisa hidup 5 tahun tanpa makan, rahasianya ada pada ‘gen unik’
Indonesia
•
07 Jun 2026

Teknologi AI baru bikin prakiraan badai debu lebih akurat dan 100 kali lebih cepat
Indonesia
•
06 Jun 2026
