
Sekjen PBB desak aksi untuk atasi krisis utang yang "menghancurkan"

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (di podium) berbicara dalam peluncuran laporan terbaru oleh Kelompok Tanggap Krisis Global PBB berjudul "A World of Debt" di markas PBB di New York pada 12 Juli 2023. (Xinhua/Xie E)
Utang publik global pada 2022 menyentuh rekor 92 triliun dolar Amerika Serikat (AS), dengan negara-negara berkembang memikul jumlah yang tidak proporsional.
PBB (Xinhua) – Krisis utang yang terjadi saat ini menggarisbawahi perlunya aksi segera untuk mereformasi sistem keuangan global, kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (12/7).Pernyataan itu disampaikan Guterres dalam peluncuran laporan terbaru oleh Kelompok Tanggap Krisis Global PBB (UN Global Crisis Response Group), berjudul ‘A World of Debt’."Separuh dunia kita tenggelam dalam bencana pembangunan, yang dipicu oleh krisis utang yang menghancurkan," katanya, mengutip pesan utama laporan tersebut.Sekitar 3,3 miliar orang, hampir separuh dari umat manusia, tinggal di negara-negara yang membelanjakan lebih banyak untuk pembayaran bunga utang daripada untuk pendidikan atau kesehatan, imbuhnya.Menyebutnya hal itu sebagai "kegagalan sistemik", Sekjen PBB tersebut mencatat bahwa beberapa negara termiskin dipaksa memilih antara membayar utang atau membelanjakan uangnya untuk rakyat mereka.Mereka hampir tidak memiliki ruang fiskal untuk investasi penting dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau transisi ke energi terbarukan, katanya.Guterres menunjukkan bahwa pada 2022, utang publik global menyentuh rekor 92 triliun dolar Amerika Serikat (AS), dengan negara-negara berkembang memikul jumlah yang tidak proporsional.Pangsa pasar yang tumbuh dipegang oleh kreditur swasta yang membebankan suku bunga setinggi langit ke banyak negara berkembang. Rata-rata, negara-negara Afrika membayar pinjaman empat kali lipat lebih banyak dibandingkan AS dan delapan kali lebih banyak daripada negara-negara Eropa terkaya, imbuhnya."Ini salah satu hasil dari ketidaksetaraan yang terbangun dalam sistem keuangan global kita yang sudah ketinggalan zaman, yang mencerminkan dinamika kekuatan kolonial pada era ketika sistem itu diciptakan," kata Sekjen PBB tersebut.Sistem itu belum memenuhi mandatnya sebagai jaring pengaman untuk membantu semua negara mengelola rangkaian guncangan tak terduga saat ini termasuk pandemi COVID-19, dampak krisis iklim, dan konflik di Ukraina, katanya.Reformasi mendalam pada sistem keuangan global tidak akan terjadi dalam semalam, tetapi ada banyak langkah yang dapat diambil saat ini, tegasnya."Aksi tidak akan mudah. Namun, aksi itu penting, dan mendesak," kata Guterres.*1 dolar AS = 15.084 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Warga AS gelar aksi unjuk rasa, tuntut diakhirinya perang terhadap Iran
Indonesia
•
09 Mar 2026

Kepala WHO serukan perlindungan fasilitas perawatan kesehatan di tengah konflik
Indonesia
•
12 Apr 2024

Perekrutan PRT Bangladesh di Saudi turun 30 persen
Indonesia
•
29 Oct 2019

Kemenlu China: Tidak ada ruang untuk negosiasi atau kompromi soal prinsip Satu China
Indonesia
•
03 Dec 2024


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
