
Ilmuwan China usulkan cara untuk capai produksi tanaman netral karbon

Foto dari udara yang diabadikan pada 20 Juli 2022 ini memperlihatkan sebuah mesin pemanen nirawak beroperasi di Jiangxiang di wilayah Nanchang, Provinsi Jiangxi, China timur. (Xinhua/Wan Xiang)
Upaya netralitas karbon China dalam produksi pangannya dapat dilakukan dengan pirolisis biomassa terintegrasi dan sistem pembangkit listrik yang dipadukan dengan langkah-langkah mitigasi metana dan nitrogen yang umum.
Nanjing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China, yang bekerja sama dengan para peneliti dari Amerika Serikat (AS) dan Jerman, mengusulkan sebuah solusi pengurangan karbon pertanian yang dapat membantu China mencapai netralitas karbon dalam produksi pangannya, menurut Institut Ilmu Tanah yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Berdasarkan evaluasi model penelitian tersebut, total emisi karbon dari produksi tanaman pokok China, termasuk beras, gandum, dan jagung, bisa mendekati 670 teragram setara CO2 pada 2018.Menyelesaikan penilaian siklus hidup yang komprehensif menggunakan data dari China, tim peneliti menunjukkan bahwa pirolisis biomassa terintegrasi dan sistem pembangkit listrik yang dipadukan dengan langkah-langkah mitigasi metana dan nitrogen yang umum diterapkan mampu membantu mengurangi emisi gas rumah kaca siklus hidup tahunan tanaman pokok dari 666,5 teragram setara CO2 yang tercatat saat ini menjadi minus 37,9 teragram setara CO2."Cara baru ini dapat membantu upaya netralitas karbon China dalam produksi biji-bijian tanpa mengorbankan output biji-bijian. Cara ini juga dapat mengurangi emisi polusi atmosfer, mendongkrak tingkat pemanfaatan sumber daya pupuk, serta meningkatkan manfaat lingkungan dan ekonomi hingga lebih dari 30 persen," urai Yan Xiaoyuan, ilmuwan utama dari Institut Ilmu Tanah CAS.Penelitian ini dipimpin oleh Institut Ilmu Tanah CAS dalam kerja sama dengan beberapa lembaga riset lainnya, termasuk Universitas Pertanian China, Universitas Tsinghua, dan Cornell University. Temuan penelitian ini telah dipublikasikan secara daring di jurnal Nature Food pada 9 Februari.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Astronaut Shenzhou-18 lakukan persiapan ‘spacewalk’ kedua
Indonesia
•
03 Jul 2024

China luncurkan satelit baru dengan cetak rekor efisiensi peluncuran
Indonesia
•
09 Sep 2023

Peneliti Siberia teliti virus paleo dari sisa hewan purba
Indonesia
•
19 Feb 2021

Ilmuwan Australia uji coba batuan vulkanis untuk pertanian berkelanjutan
Indonesia
•
15 Jul 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
