Unjuk rasa di Iran meletus di beberapa kota akibat anjloknya nilai tukar rial dan kesulitan ekonomi berkepanjangan.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Pemimpin Tertinggi
Iran Ali Khamenei pada Jumat (9/1) meminta rakyat Iran untuk menjaga persatuan, serta mengatakan sejumlah demonstran mencoba menyenangkan Amerika Serikat (AS).
Khamenei menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidato kenegaraan yang disiarkan televisi saat negara tersebut sedang menghadapi meningkatnya aksi unjuk rasa.
Para pengunjuk rasa "merusak jalanan milik mereka sendiri untuk menyenangkan presiden negara lain," kata pemimpin tertinggi Iran itu, yang merujuk pada Presiden AS Donald Trump.
Khamenei meminta pemimpin AS untuk fokus pada masalah di negaranya sendiri.
Iran "tidak akan mundur" dalam menghadapi "para penyabot," tuturnya, seraya menambahkan bahwa pemimpin AS yang "arogan" akan "digulingkan".
Aksi unjuk rasa yang sedang berlangsung, yang dipicu oleh penurunan tajam nilai tukar rial serta kesulitan ekonomi di beberapa kota di Iran sejak akhir bulan lalu, tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan beberapa bentrokan mematikan dilaporkan terjadi antara polisi dan apa yang digambarkan pemerintah sebagai "para perusuh".
Sejak Kamis (8/1), Iran mengalami pemadaman internet skala besar, dengan komunikasi dan media lokal juga menghadapi gangguan yang signifikan.
Sejumlah penerbangan dari berbagai negara, termasuk Turkiye dan Uni Emirat Arab, telah membatalkan layanan mereka ke dan dari Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (10/1) mengatakan bahwa AS "siap membantu" sehubungan dengan situasi di Iran, seraya mengeklaim bahwa Iran "sedang menyongsong KEBEBASAN", kembali menyampaikan ancamannya terhadap negara Timur Tengah tersebut.
"Iran sedang menyongsong KEBEBASAN, mungkin dalam level yang belum pernah dicapai sebelumnya. AS siap membantu!!!" ungkap Trump dalam unggahannya di Truth Social.
Trump dan sejumlah pejabat senior AS lainnya telah berulang kali memperingatkan bahwa Washington akan bertindak jika Iran "membunuh para pengunjuk rasa damai".
"Jika mereka mulai membunuh rakyat... kami akan ikut campur," tutur Trump di hadapan awak media pada Jumat (9/1), seraya menambahkan bahwa "itu bukan berarti pengerahan pasukan di lapangan, tetapi berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras, di titik krusial."
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran pada Rabu (7/1) mengecam pernyataan dari pemerintahan Trump yang disebutnya "intervensionis dan menyesatkan" mengenai aksi unjuk rasa di Iran, mengatakan bahwa pernyataan itu mencerminkan sikap permusuhan yang terus diarahkan Washington kepada rakyat Iran.
Sejak akhir Desember, aksi unjuk rasa meletus di beberapa kota di
Iran akibat anjloknya nilai tukar rial dan kesulitan ekonomi berkepanjangan. Otoritas Iran telah menanggapi aksi tersebut dan menyatakan kesediaannya untuk menangani keluhan terkait ekonomi, seraya memperingatkan agar masyarakat tidak melakukan kekerasan dan vandalisme.
Laporan: Redaksi