
Tim peneliti China ungkap cara ulat sutra membentuk kepompong hijau

Sejumlah petani memberi makan ulat sutra dengan daun murbei di sebuah koperasi di Desa Liantang, Lianyun, yang berada di wilayah Yuexi, Provinsi Anhui, China timur, pada 4 September 2022. (Xinhua/Du Yu)
Ulat sutra hasil budi daya memiliki kepompong yang lebih berwarna dengan berbagai variasi termasuk putih, hijau, dan kuning-merah, memberikan contoh luar biasa untuk mengeksplorasi diversifikasi fenotipik dan pewarnaan biologis.
Chongqing, China (Xinhua) – Tim peneliti China dari Southwest University (SWU) mengungkap mekanisme genetik di balik warna hijau pada beberapa kepompong ulat sutra, menandai penemuan baru di bidang pewarnaan biologis.Penelitian tersebut baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Molecular Biology and Evolution.Dibandingkan dengan ulat sutra liar, ulat sutra hasil budi daya memiliki kepompong yang lebih berwarna dengan berbagai variasi termasuk putih, hijau, dan kuning-merah, memberikan contoh luar biasa untuk mengeksplorasi diversifikasi fenotipik dan pewarnaan biologis, menurut penelitian tersebut.Kepompong hijau, yang dihasilkan oleh pengendapan flavonoid, lebih langka dibandingkan warna lain dan memiliki sifat antibakteri yang lebih baik, ketahanan oksidasi yang lebih tinggi, serta perlindungan ultraviolet yang lebih besar.Namun, dasar genetiknya belum sepenuhnya terungkap, kata Tong Xiaoling dari Laboratorium Biologi Genom Ulat Sutra Utama Negara (State Key Laboratory of Silkworm Genome Biology) di SWU.Melalui analisis asosiasi seluruh genom, tim peneliti menemukan kelompok gen pengangkut gula yang menentukan pembentukan kepompong berwarna hijau.Para peneliti juga menganalisis mekanisme pembentukan diversifikasi warna kepompong berdasarkan sistem pan-genom, dan menganalisis evolusi warna kepompong dari ulat sutra liar hingga ulat sutra hasil budi daya.Penelitian ini sangat penting untuk membiakkan varietas ulat sutra baru yang berkualitas tinggi, serta dapat memberikan referensi untuk mempelajari efek flavonoid pada kesehatan manusia, kata Dai Fangyin dari SWU.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 - Rusia selesaikan uji coba vaksin pertama di dunia
Indonesia
•
14 Jul 2020

Tim ilmuwan China berhasil kembangkan metode baru daur ulang plastik
Indonesia
•
06 Jul 2023

Pakar sebut perubahan iklim tunda migrasi paus biru
Indonesia
•
14 Nov 2023

Fokus Berita – Robot humanoid China kian maju dengan interaksi emosional yang disempurnakan
Indonesia
•
27 Aug 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
