
Tim peneliti China kembangkan sutra artifisial super kuat

Seorang warga desa memanen 'kepompong emas' di peternakan ulat sutra miliknya di Desa Jiansheng di Tongxiang, Provinsi Zhejiang, China timur, pada 25 Mei 2021. (Xinhua/Xu Yu)
Sutra artifisial super kuat yang dikembangkan oleh para peneliti dari Universitas Tianjin China bertekstur halus, namun kuat serta dapat menahan tekanan hingga 70 persen lebih kuat daripada sutra laba-laba.
Tianjin, China (Xinhua) – Tim peneliti China menemukan cara baru untuk mengembangkan sutra ulat sutra artifisial super kuat yang memiliki kekuatan jauh lebih besar daripada sutra alami terkuat.Sutra dari ulat sutra juga secara luas digunakan di bidang biomedis sebagai material pembedahan dan dalam uji pembuatan jaringan. Sutra merupakan biopolimer berbasis protein dengan kombinasi unik dari beragam sifat fisik. Sutra dari ulat sutra memiliki kekuatan lebih lemah daripada sutra alami terkuat, yakni sutra jaring laba-laba, yang membentuk penopang utama pada jaring laba-laba.Para ilmuwan sudah lama mencoba memasukkan DNA laba-laba ke dalam ulat sutra guna meningkatkan kekuatan perenggangan sutranya. Dalam penelitian baru yang diterbitkan di jurnal Matter ini, para peneliti dari Universitas Tianjin China memilih ulat sutra biasa yang lebih mudah diakses dan dikelola untuk membuat sutra artifisial.Serat sutra dari ulat sutra alami terbuat dari serat inti yang dilapisi lem sutra, yang mencegah pemintalan serat untuk penggunaan komersial. Para peneliti menempatkan sutra dari ulat sutra biasa dalam chemical bath yang dapat melarutkan lem sutra tanpa menyebabkan degradasi protein sutra.Para peneliti mengatakan serat artifisial ini halus dan kuat serta dapat menahan tekanan. Serat tersebut 70 persen lebih kuat daripada sutra laba-laba.Analisis struktural menunjukkan bahwa kekuatan luar biasa ini berkaitan dengan kristalinitas yang tinggi dan nanokristal-nanokristal kecil yang terbentuk di dalam serat artifisial. Penyertaan ion-ion zink ke dalam serat selama proses pemintalan dan perenggangan pascapemintalan juga dapat berkontribusi terhadap sifat-sifat mekanisnya yang sangat baik, urai para peneliti.Mereka berharap pendekatan baru ini dapat menawarkan cara yang menjanjikan untuk menghasilkan sutra artifisial dengan kinerja tinggi yang menguntungkan.Peta pan-genom super ulat sutra
Baru-baru ini tim peneliti China berhasil menyelesaikan analisis genom sumber plasma nutfah ulat sutra dalam skala besar dan menggambarkan peta pan-genom super pertama di dunia untuk ulat sutra, menurut Southwest University.Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.Pan-genom adalah jumlah dari seluruh informasi genomik dalam satu spesies, yang mencakup lebih banyak keragaman genetik dibandingkan genom referensi tunggal, kata Dai Fangyin dari Southwest University, pemimpin tim peneliti itu.Ulat sutra adalah serangga ekonomi yang penting untuk memproduksi sutra. Namun, genom yang tersedia saat ini membatasi pemahaman tentang keragaman genetiknya dan penemuan alel (gen yang terletak dalam suatu anggota badan dan mengakibatkan sifat yang sama) yang berharga untuk pembudidayaan, tutur Dai.
Foto yang diabadikan pada 19 Mei 2021 ini menunjukkan 'kepompong emas' dan ulat sutra di peternakan pembudidayaan ulat sutra di Desa Jiansheng, Kota Tongxiang, Provinsi Zhejiang, China timur. (Xinhua/Xu Yu)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

UE berikan persetujuan terakhir untuk undang-undang AI
Indonesia
•
24 May 2024

Sebuah asteroid dinamai menurut seorang arkeolog China
Indonesia
•
14 Jul 2023

Peneliti China temukan pengobatan baru untuk kanker tiroid
Indonesia
•
16 Dec 2021

Ilmuwan Australia ungkap bahaya tersembunyi pestisida di ekosistem akuatik
Indonesia
•
25 Jun 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
