Kesendirian berlebihan bisa picu gangguan kecemasan

Ilustrasi. (Sasha Freemind on Unsplash)

Kesendirian dalam periode lama, bahkan tanpa adanya insiden khusus yang terjadi, akan memicu kegelisahan dan kecemasan, bahkan berkembang menjadi ketakutan untuk berinteraksi sosial.

 

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok peneliti China menunjukkan bahwa isolasi sosial memicu "akumulasi besi" di area tertentu di otak, yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan. Temuan ini memberikan inspirasi untuk pengembangan intervensi baru dalam gangguan kecemasan, menurut sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang setelah mengalami periode panjang kesendirian, bahkan tanpa adanya insiden khusus yang terjadi, sering mengalami kegelisahan dan kecemasan, bahkan berkembang menjadi ketakutan untuk berinteraksi sosial. Kecemasan yang disebabkan oleh kesendirian ini serta mekanisme biologis yang mendasarinya telah lama menjadi misteri bagi komunitas ilmiah.

Peneliti dari Universitas Teknologi China Selatan (South China University of Technology), Universitas Zhejiang di China timur, dan Universitas Kedokteran Selatan (Southern Medical University) di Provinsi Guangdong, China selatan, melakukan penelitian menggunakan model tikus yang dirancang untuk meniru kondisi isolasi jangka panjang pada manusia.

Mereka menemukan bahwa pada tikus yang dipelihara sendirian, kandungan besi di daerah otak yang disebut ventral hippocampus, sebuah subarea yang lebih fokus pada pengaturan emosi, menunjukkan akumulasi besi yang abnormal.

Studi lebih lanjut mengungkapkan bahwa kelebihan zat besi bertindak sebagai sinyal yang keliru, mengaktifkan molekul yang dikenal sebagai iron-α-synuclein (α-Syn). Aktivasi ini memicu aktivitas neuron yang berlebihan, seperti korsleting listrik yang terus-menerus mengirim peringatan kecemasan ke tubuh.

Terlebih lagi, perubahan ini menargetkan tepat pada pusat emosi di otak, sehingga memicu respons stres yang sangat spesifik terhadap isolasi sosial.

Studi ini menunjukkan bahwa di bawah tekanan psikologis, zat besi, yang berperan dalam menjaga kesehatan saraf, dapat secara langsung memicu perubahan struktur dan fungsi sinapsis. Mekanisme ini, yang disebut "ferroplasticity", secara langsung menghubungkan gangguan metabolisme zat besi di otak dengan gangguan emosional, memberikan wawasan baru dalam pemahaman tentang gangguan mental.

Para peneliti melakukan pemberian obat melalui jalur hidung pada tikus dengan menggunakan berbagai agen, yang ditargetkan pada besi molekuler atau α-Syn untuk intervensi. Setelah dua pekan pengobatan, perilaku kecemasan tikus-tikus tersebut berkurang secara signifikan, dan aktivitas saraf mereka kembali normal.

Studi ini tidak hanya mengungkap misteri yang telah lama ada tentang bagaimana kesepian memengaruhi otak, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan intervensi baru yang noninvasif, dapat dipulihkan, dan tidak bergantung pada obat anticemas konvensional, kata Wang Zhuo, penulis pertama sekaligus penulis koresponden studi tersebut.

Banyak orang di dunia mengalami masalah psikologis yang berkaitan dengan isolasi sosial. Kelompok berisiko tinggi untuk masalah semacam ini meliputi warga lanjut usia (lansia) yang tinggal sendirian, pekerja di lingkungan terisolasi atau terbatas, pasien pascaoperasi, dan remaja yang menutup diri dari pergaulan sosial.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait