Tokoh-tokoh politik dunia mundur saat berkas-berkas Epstein terungkap

Foto yang diabadikan dari puncak Monumen Washington pada 17 November 2025 ini menunjukkan gedung Capitol AS di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Hu Yousong)

Berkas-berkas Epstein disebut sebagai "satanisme murni" dari elit Barat dan mengekspos sifat asli Barat.

 

Beijing, China (Xinhua) – Berkas-berkas yang baru dirilis mengenai mendiang pemodal Amerika Serikat (AS) Jeffrey Epstein telah menjadi sorotan di Benua Eropa, mendorong pengunduran diri beberapa tokoh politik karena hubungan mereka dengan pelaku kejahatan seksual yang telah divonis bersalah tersebut.

Kementerian Luar Negeri Norwegia mengatakan pada Ahad (8/2) bahwa Mona Juul, duta besar Norwegia untuk Yordania, yang juga merangkap di Irak, telah mengundurkan diri dari jabatannya setelah terungkap bahwa dia pernah menjalin kontak dengan Epstein.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Norwegia Espen Barth Eide menyebut pengunduran diri itu "tepat dan perlu," menambahkan bahwa kontak Juul dengan pelaku kejahatan seksual tersebut menunjukkan "kegagalan penilaian yang serius" dan membuat sulit untuk memulihkan tingkat kepercayaan yang dibutuhkan untuk jabatan tersebut.

Juul sebelumnya sempat diberhentikan sementara dari tugasnya saat kementerian meninjau apa yang dirinya ketahui tentang Epstein dan kontak mereka. Kementerian itu menegaskan penyelidikan internal akan tetap dilanjutkan meski Juul telah mengundurkan diri, dengan perhatian khusus pada aturan yang berlaku bagi pegawai dan pejabat negara, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak menjabat.

Di Inggris, Morgan McSweeney telah mengundurkan diri sebagai kepala staf Perdana Menteri Keir Starmer di tengah tuduhan bahwa dirinya bertanggung jawab atas penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar untuk AS, demikian dilaporkan Sky News pada Ahad.

Mandelson (72), diangkat sebagai duta besar untuk Washington pada awal 2025. Namun, Starmer memberhentikannya setelah hanya tujuh bulan menjabat, menyusul kontroversi terkait berkas-berkas Epstein yang sebelumnya dirilis.

Nama Mandelson kembali muncul dalam pemberitaan media terkait pengungkapan berkas terbaru. Polisi Inggris telah membuka penyelidikan kriminal terhadapnya atas dugaan pelanggaran dalam jabatan publik, termasuk pertanyaan terkait penanganan informasi sensitif.

"Keputusan untuk menunjuk Peter Mandelson adalah sebuah kesalahan," kata McSweeney dalam surat pengunduran diri yang diterbitkan oleh media lokal. "Dia telah merusak partai kami, negara kami, dan kepercayaan pada politik itu sendiri. Ketika ditanya, saya menyarankan perdana menteri untuk melakukan penunjukan itu dan saya bertanggung jawab penuh atas saran tersebut."

Pada Kamis (5/2) pekan lalu, Starmer juga meminta maaf atas keputusan sebelumnya menunjuk Mandelson sebagai duta besar, dengan mengatakan bahwa dirinya telah meremehkan keseriusan hubungan masa lalu Mandelson dengan Epstein.

Mantan menteri kebudayaan Prancis Jack Lang mengajukan diri untuk mundur sebagai presiden Institut Dunia Arab (Arab World Institute), sebuah lembaga budaya dan akademik yang berbasis di Paris, di tengah kontroversi terkait dengan dokumen-dokumen yang baru dirilis tentang kasus Epstein, demikian dilansir media Prancis pada Sabtu (7/2).

Menurut France Info, Lang pada Sabtu mengirim surat kepada Menlu Prancis Jean-Noel Barrot, yang menyampaikan soal usulan pengunduran dirinya dalam pertemuan luar biasa dewan direksi institut mendatang. Dia mengatakan langkah itu dimaksudkan untuk "melindungi" lembaga tersebut di tengah iklim yang ditandai oleh apa yang dia gambarkan sebagai "serangan pribadi."

Kantor kejaksaan keuangan nasional Prancis membuka penyelidikan awal pada Jumat terhadap Lang dan putrinya atas dugaan penipuan pajak berat dan pencucian uang.

Pada 30 Januari, Departemen Kehakiman AS mengatakan telah menerbitkan jutaan halaman tambahan sesuai dengan "Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein," sehingga total pengungkapan mencapai hampir 3,5 juta halaman, bersama dengan ribuan video dan gambar. Pengungkapan besar-besaran ini telah meningkatkan pengawasan terhadap koneksi Epstein dan memperbarui tekanan politik di berbagai negara.

Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan pada Ahad (8/2) bahwa berkas-berkas tersebut telah mengungkap apa yang dia sebut sebagai "satanisme murni" dari elit Barat dan mengekspos sifat asli Barat.

"Topik ini (berkas Epstein) adalah tentang mengungkap wajah sebenarnya dari apa yang disebut 'kolektif Barat', deep state, atau, lebih tepatnya, persatuan bayangan (deep union) yang menguasai negara-negara Barat dan mencoba mengatur seluruh dunia," kata Lavrov kepada stasiun televisi Rusia NTV. "Saya pikir tidak perlu menjelaskan kepada masyarakat normal bahwa (kejahatan) ini di luar logika manusia dan bahwa ini adalah bentuk satanisme murni."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait