
Tim ilmuwan China laporkan ukuran partikel regolit sisi jauh Bulan

Foto yang diabadikan oleh wahana penjelajah (rover) Yutu-2 (Jade Rabbit-2) pada 11 Januari 2019 ini menunjukkan wahana pendarat (lander) pada Chang'e-4. (Xinhua/Administrasi Luar Angkasa Nasional China)
Empat wahana pengukur suhu di bawah terminal rel tersebut mulai mengukur suhu regolit lokal setiap 900 detik, memungkinkan para peneliti untuk mengalkulasikan ukuran partikel dengan pemodelan termal yang disesuaikan.
Jakarta (Indonesia Window) – Tim ilmuwan China telah memperkirakan ukuran partikel regolit sisi jauh Bulan berdasarkan pengukuran suhu in situ pertama di dunia yang dilakukan oleh wahana antariksa Chang'e-4 di sisi gelap Bulan.Timbunan butiran batu longgar yang berada di permukaan Bulan di lokasi pendaratan Chang'e-4 rata-rata memiliki kedalaman sekitar 15 mikrometer, mengindikasikan adanya regolit muda di bawah permukaannya, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam edisi terbaru National Science Review.Diluncurkan pada 8 Desember 2018, wahana Chang'e-4 melakukan pendaratan lunak pertama di Kawah Von Karman di Cekungan Kutub Selatan-Aitken di sisi jauh Bulan pada 3 Januari 2019.Setelah mendarat, wahana penjelajah (rover) Yutu-2 dilepaskan menggunakan dua rel yang dibentangkan. Empat wahana pengukur suhu di bawah terminal rel tersebut mulai mengukur suhu regolit lokal setiap 900 detik, memungkinkan para peneliti untuk mengalkulasikan ukuran partikel dengan pemodelan termal yang disesuaikan.Selain itu, mereka menemukan bahwa rata-rata kerapatan massa tanah di lokasi pendaratan adalah sekitar 471 kilogram per meter kubik dan sekitar 824 kilogram per meter kubik pada 30 sentimeter bagian atas regolit Bulan, menurut penelitian itu."Hasil ini akan memberikan tambahan 'fakta dasar' yang penting untuk analisis dan interpretasi pengamatan suhu global di masa depan," kata Huang Jun, penulis korespondensi makalah yang bekerja sama dengan Universitas Geosains China di Wuhan."Ini juga akan memberikan penjelasan terkait desain untuk wahana pengukur suhu in situ dan fluks kalor (heat flux) di masa depan," kata Huang.Dalam sebuah makalah ilmiah, NASA menjelaskan bahwa permukaan bulan ditutupi oleh lapisan puing-puing yang tidak terkonsolidasi yang disebut regolit Bulan (lunar regolith).Ketebalan regolit bervariasi dari sekitar 5 meter pada permukaan rendah hingga sekitar 10 meter di permukaan dataran tinggi di Bulan.Sebagian besar regolit adalah tanah abu-abu halus dengan kepadatan sekitar 1,5 gram/cm kubik. Namun, regolith Bulan juga termasuk breksi dan fragmen batuan dari batuan dasar lokal.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan kembangkan kristal baru, capai terobosan dalam ‘output’ laser ultraviolet vakum
Indonesia
•
30 Jan 2026

China targetkan peluncuran misi pemulangan sampel Mars sekitar 2028 mendatang
Indonesia
•
08 Sep 2024

Tim ilmuwan China usulkan penggunaan robot yang bergerak di aliran darah
Indonesia
•
18 Dec 2023

Menhan Rusia tekankan pembangunan kekuatan nuklir strategis
Indonesia
•
01 Dec 2022


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
