
Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar

Seekor macan tutul salju terlihat di wilayah Zadoi, Prefektur Otonom Etnis Tibet Yushu, Provinsi Qinghai, China barat laut, pada 6 Agustus 2022. (Xinhua/Yao Muyang)
Integrasi zonasi pemanfaatan ruang serta pengaturan waktu penggembalaan berdasarkan pola aktivitas temporal spesies tertentu, akan memperkecil kemungkinan pertemuan manusia dengan karnivora yang menimbulkan konflik.
Xining, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan China membagikan wawasan baru terkait penyelesaian konflik antara manusia dan satwa liar dengan membangun strategi pengelolaan ternak secara temporal, demikian menurut Institut Biologi Dataran Tinggi Barat Laut (Northwest Institute of Plateau Biology/NWIPB) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Dipublikasikan dalam jurnal Integrative Zoology, studi tersebut menyoroti tantangan global bersama, yaitu memastikan pembangunan berkelanjutan sekaligus melindungi keanekaragaman hayati, kata institut itu.
"Predasi ternak oleh karnivora besar merupakan tantangan konservasi global yang memicu konflik antara manusia dan karnivora serta menghambat koeksistensi dengan komunitas agropastoral. Memahami pola aktivitas karnivora dan menerapkan segregasi temporal merupakan strategi berbasis bukti untuk mengurangi risiko konflik tersebut," kata Lian Xinming, peneliti dari NWIPB.
Penggembalaan ternak domestik mencakup sekitar sepertiga wilayah daratan Bumi dan secara signifikan memengaruhi satwa liar yang hidup berdampingan di habitat yang sama. Tingginya tumpang tindih penggunaan ruang ini juga memicu konflik yang terus-menerus antara para penggembala lokal dan satwa liar.
Di wilayah yang kurang berkembang, tempat pertanian dan peternakan menjadi pilar industri, perburuan balasan akibat konflik manusia dan satwa liar telah menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi sejumlah satwa liar. Hal ini menimbulkan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup jangka panjang banyak spesies yang terancam punah, ujar Lian.
Berbagai strategi telah dikembangkan dan disempurnakan guna menghindari kerugian ekonomi maupun korban jiwa akibat konflik manusia dan satwa. Dengan fokus pada strategi mitigasi nonfatal, tim peneliti melakukan investigasi dan penelitian lapangan jangka panjang di kawasan Sanjiangyuan, yang dikenal sebagai ‘menara air China’, di Provinsi Qinghai, China barat laut.
Di wilayah ini, karnivora besar yang paling sering berkonflik dengan manusia adalah macan tutul salju, serigala, lynx, dan beruang cokelat. Tiga spesies pertama umumnya memangsa hewan domestik, sedangkan beruang cokelat terutama merusak rumah dan bahkan dapat menyebabkan korban jiwa pada manusia.
Selama periode sepuluh tahun dari 2014 hingga 2024, para ilmuwan memasang 422 kamera inframerah dan mengumpulkan data pemantauan terkait di wilayah tersebut, yang mencakup area pemantauan kumulatif seluas 2.580 kilometer persegi. Mereka memperoleh sejumlah besar foto valid masing-masing dari macan tutul salju, serigala, beruang cokelat, dan lynx.
Dengan menggunakan estimasi kepadatan kernel dan kernel melingkar bersyarat, para peneliti menganalisis pola aktivitas harian keempat karnivora besar tersebut. Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi variasi musiman antara periode dingin dan hangat, sehingga memungkinkan identifikasi interval berisiko tinggi terjadinya konflik antara spesies tersebut dan manusia.
Analisis itu menunjukkan bahwa keempat karnivora besar tersebut terutama aktif pada malam hari, dengan waktu puncak aktivitas yang berbeda-beda pada setiap spesies. Serigala menunjukkan pola aktivitas harian musiman yang jelas, berbeda dengan spesies lainnya. Secara khusus, penilaian risiko temporal terhadap predasi ternak mengidentifikasi periode berisiko tinggi yang spesifik untuk masing-masing spesies.
Studi tersebut menunjukkan bahwa penerapan strategi pengelolaan ternak yang terarah pada periode berisiko tinggi semacam itu menjadi kunci untuk mengurangi risiko ternak dimangsa.
Selain itu, dalam kasus beruang cokelat, pada malam hari, terutama antara pukul 20.42 hingga 02.36 keesokan paginya, merupakan periode paling berbahaya terkait risiko spesies ini memasuki rumah para penggembala. Pada waktu tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Studi itu juga merekomendasikan agar masyarakat memelihara anjing serta menggunakan perangkat suara, cahaya, dan listrik untuk segera mendeteksi serta mengusir beruang cokelat.
"Berdasarkan investigasi dan analisis lapangan, studi kami mengusulkan bahwa dengan mengintegrasikan zonasi pemanfaatan ruang serta mengatur waktu penggembalaan berdasarkan pola aktivitas temporal spesies tertentu, kemungkinan pertemuan manusia dengan karnivora yang menimbulkan konflik dapat sangat dikurangi. Dengan demikian, strategi ini dapat terus mengurangi konflik manusia dan satwa secara lebih ilmiah," kata Lian.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Roket Smart Dragon-3 milik China meluncur dari laut, kirimkan satelit ke orbit
Indonesia
•
15 Jan 2025

Jumlah serangga menurun, Bumi semakin terancam
Indonesia
•
05 Jun 2020

Roket Smart Dragon-3 China luncurkan 9 satelit dari laut
Indonesia
•
05 Feb 2024

Chief Development Officer ZTE tekankan pentingnya inovasi dan kerja sama
Indonesia
•
01 Mar 2024


Berita Terbaru

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Fasilitas percontohan cip fotonik Eropa diluncurkan di Belanda
Indonesia
•
11 Mar 2026

Peneliti di Australia kembangkan cip AI berkecepatan cahaya untuk pangkas penggunaan energi
Indonesia
•
11 Mar 2026

Kru Shenzhou-21 lakukan uji medis lanjutan dan eksperimen ilmu otak di luar angkasa
Indonesia
•
10 Mar 2026
