
Studi sebut Afrika Sub-Sahara kehilangan hampir seperempat keanekaragaman hayati

Foto yang diabadikan pada 19 Oktober 2021 ini menunjukkan pemandangan Taman Nasional Bontebok di Afrika Selatan. (Xinhua/Lyu Tianran)
Penilaian keanekaragaman hayati global gagal mencerminkan realitas Afrika karena bergantung pada data lokal yang terbatas.
Cape Town, Afrika Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Afrika Sub-Sahara telah kehilangan hampir seperempat dari keanekaragaman hayatinya dibandingkan dengan tingkat pra-industri, menurut studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti Afrika.Universitas Stellenbosch mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu (3/12) bahwa studi yang diterbitkan di jurnal Nature itu menemukan bahwa "Afrika Sub-Sahara telah kehilangan 24 persen dari keanekaragaman hayatinya sejak masa pra-industri."Hayley Clements, penulis utama dari Pusat Transisi Keberlanjutan di Universitas Stellenbosch, mengatakan bahwa banyak penilaian keanekaragaman hayati global gagal mencerminkan realitas Afrika karena bergantung pada data lokal yang terbatas. "Dengan bekerja langsung bersama pihak-pihak yang meneliti dan mengelola ekosistem Afrika, kami dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih realistis tentang di mana keanekaragaman hayati menurun, di mana yang tetap terjaga, dan apa sebabnya," kata Clements.Proyek yang berlangsung selama lima tahun itu mengumpulkan wawasan dari 200 pakar di berbagai penjuru Afrika, mulai dari peneliti, jagawana, pemandu wisata, hingga kurator museum. Gabungan pengetahuan mereka kemudian digunakan untuk menyusun Indeks Keutuhan Keanekaragaman Hayati tingkat benua, yang mengukur persentase kelimpahan spesies asli yang masih tersisa di setiap area.Menurut studi itu, meski beberapa jenis tumbuhan yang tahan terhadap gangguan hanya mengalami penurunan sekitar 10 persen, populasi mamalia besar seperti gajah, singa, dan beberapa spesies antelop telah menyusut lebih dari 75 persen dibandingkan jumlahnya di masa lalu. Penurunan ini disebabkan oleh perluasan lahan pertanian, pemanenan yang tidak berkelanjutan, serta penggembalaan yang intensif.Negara-negara Afrika Tengah mempertahankan tingkat keutuhan keanekaragaman hayati tertinggi berkat hutan lembap yang tetap lestari, sedangkan Afrika Barat menunjukkan tingkat keanekaragaman hayati terendah akibat degradasi hutan dan sabana yang parah.Sementara itu, lebih dari 80 persen tumbuhan dan hewan liar yang tersisa terdapat di lahan produktif alih-alih kawasan lindung."Kawasan lindung tetap vital, terutama bagi mamalia besar Afrika, namun itu saja tidak cukup untuk menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati. Pengelolaan berkelanjutan lanskap produktif bersama menjadi kunci untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dan mendukung mata pencaharian," tambah Clements.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pameran mahadata internasional China akan digelar akhir Mei
Indonesia
•
14 Feb 2023

Tim ilmuwan China temukan gen padi tahan panas
Indonesia
•
02 May 2025

Siapa leluhur orang Indonesia? Peneliti temukan petunjuk penting di Sumatra dan Kalimantan
Indonesia
•
01 Jun 2026

Robot untuk perbaikan pipa limbah perkotaan jadi perhatian di Smart China Expo 2023
Indonesia
•
11 Sep 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
