
Teleskop FAST China deteksi 76 pulsar lemah baru

Foto panorama dari udara yang diabadikan pada 26 Juli 2023 ini memperlihatkan Teleskop Radio Sferikal Apertur Lima ratus meter (Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope/FAST) milik China di Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Ou Dongqu)
Teleskop Radio Sferikal Apertur Lima ratus meter (Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope/FAST), atau ‘Mata Langit China’, berhasil mendeteksi 76 pulsar baru yang lemah dan sesekali berdenyut, termasuk sekelompok pulsar paling lemah yang diketahui saat ini.
Beijing, China (Xinhua) – Dengan menggunakan Teleskop Radio Sferikal Apertur Lima ratus meter (Five-hundred-meter Aperture Spherical Radio Telescope/FAST), atau ‘Mata Langit China’, para ilmuwan China berhasil mendeteksi 76 pulsar baru yang lemah dan sesekali berdenyut, termasuk sekelompok pulsar paling lemah yang diketahui saat ini.Pulsar-pulsar ini sangat istimewa karena hanya sesekali berdenyut dalam banyak periode rotasi, sehingga mereka dikenal sebagai sumber radio transien yang berotasi (rotating radio transient source/RRAT), menurut studi yang diterbitkan pada Senin (2/10) dalam jurnal Astronomy and Astrophysics Research itu.Tidak seperti kebanyakan pulsar yang memancarkan denyut secara kontinu, RRAT sulit dideteksi dalam metode pencarian pulsar biasa. Pulsar-pulsar ini diidentifikasi melalui analisis denyut demi denyut dari sejumlah besar data yang dikumpulkan oleh teleskop radio dengan kepekaan tinggi.Sejak RRAT pertama kali dideteksi pada 2006, lebih dari 160 RRAT telah dideteksi oleh teleskop radio di seluruh dunia. Studi terperinci tentang beberapa RRAT mengindikasikan bahwa fenomena-fenomena tersebut pada dasarnya merupakan pulsar tetapi dengan karakteristik fisik khusus di magnetosfer, yang jumlahnya sekitar 5 persen dari jumlah total pulsar.Tim peneliti dari Observatorium Astronomi Nasional di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (National Astronomical Observatories under the Chinese Academy of Sciences/NAOC) mengembangkan jalur pencarian denyut tunggal efisien baru dan secara sistematis mencari denyut tunggal dengan menggunakan data dari FAST Galactic Pulsar Snapshot Survey yang mulai dicatat sejak 2020.Han Jinlin, ilmuwan penelitian terkemuka di bidang ini dari NAOC, mengatakan 76 RRAT yang ditemukan dengan metode baru ini mencakup sekitar 12 persen dari total jumlah pulsar yang berhasil diidentifikasi oleh survei FAST tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa ada lebih banyak pulsar yang sesekali memancarkan denyut daripada yang diperkirakan sebelumnya.Untuk memahami lebih jauh karakteristik fisik dari RRAT, para ilmuwan juga menggunakan FAST untuk mengamati 59 RRAT yang diketahui dan merupakan hasil penemuan teleskop-teleskop internasional. Mereka menemukan bahwa tidak ada satu pun RRAT yang menunjukkan karakteristik RRAT standar.Sinyal polarisasi dari denyut yang hanya sesekali terpancar dan terdeteksi oleh FAST mengindikasikan bahwa denyut-denyut tersebut terpancar di area yang sama di magnetosfer bintang neutron seperti halnya denyut normal, menurut studi tersebut."Studi ini memiliki implikasi penting untuk memahami sisa-sisa bintang mati yang begitu banyak di galaksi Bima Sakti dan karakteristik radiasinya," kata Han, seraya menambahkan bahwa teleskop radio dengan sensitivitas tinggi seperti FAST merupakan alat terbaik untuk mendeteksi pulsar-pulsar menarik semacam itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi temukan kereta pengangkut batu bara tingkatkan polusi udara di perkotaan AS
Indonesia
•
03 May 2023

Tim ilmuwan China dan asing akan mulai ekspedisi baru ke gua terpanjang di Asia
Indonesia
•
24 Sep 2024

Indosat, ITA, dan Universitas Tsinghua China jalin kerja sama bangun lab AI di Indonesia
Indonesia
•
24 Sep 2025

Riset BRIN ungkap emisi karbon lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra tertinggi
Indonesia
•
16 Jan 2026


Berita Terbaru

Kapal harta karun abad ke-18 ditemukan di dasar laut Norwegia, porselen China biru-putih masih utuh
Indonesia
•
03 Jun 2026

Alkohol bisa bikin orang kalap makan keripik dan pizza, ini penyebabnya
Indonesia
•
04 Jun 2026

Pemanasan global buat tanaman hemat air dan punya lebih banyak daun
Indonesia
•
04 Jun 2026

Misi eksplorasi Mars NASA tamat setelah wahana MAVEN hilang kontak
Indonesia
•
04 Jun 2026
