Teknologi pengolahan limbah untuk kampung di atas laut

Photo by Sean O. on Unsplash
Ilustrasi pantai. (Photo by Sean O. on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Berada sekitar 600 meter dari daratan dengan rumah-rumah panggung terbuat dari kayu, Desa Torosiaje yang berada di bagian barat Provinsi Gorontalo merupakan daya tarik wisata yang tak boleh dilewati.

Namun, penduduk desa di Teluk Tomini yang dihuni oleh suku Bajo tersebut belum memiliki saluran pembuangan limbah domestik atau septic tank.

Akibatnya, selama ini tinja langsung dibuang ke laut, demikian laporan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang dikutip di Jakarta, Ahad.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, pihaknya memiliki teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan proses kombinasi anaerob-aerob. Teknologi BPPT ini sudah banyak diterapkan di gedung perkantoran dan industri.

“Untuk menangani masalah limbah dari jamban saja teknologi anaerob-aerob sudah sangat tepat. Namun yang menjadi tantangan adalah membangun system ini di permukiman yang berada di atas laut, dimana air laut bisa mengalami pasang dan surut,” ujar Rudi.

Karenanya, dia menyarankan untuk menggunakan bak penampunan tinja di bawah rumah, dan memisahkan saluran antara limbah dari jamban dengan limbah cuci dan mandi untuk mengoptimalkan proses kerja IPAL.

“Pemisahan saluran bertujuan mempermudah kerja mikroba dalam mengurai bakteri dan kotoran yang ada di septic tank. Apabila mikroba ini tercampur dengan bahan kimia dari sabun cuci piring, sabun mandi, dan shampo, maka mikroba ini akan mati. Akibatnya limbah domestik pun akan sulit terurai,” terangnya.

Rudi menambahkan bahwa hasil olahan air dari teknologi IPAL sudah sesuai dengan standar baku mutu air bersih yang dapat digunakan untuk kegiatan non-konsumsi, seperti menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Untuk memulai penerapan teknologi tersebut di Desa Torosiaje, BPPT dan Pemerintah Kabupaten Pohuwato akan membangun satu dusun percontohan yang menggunakan teknologi pengolahan limbah itu.

Sementara itu, Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga selama ini pemerintah daerah sudah mencoba berbagai teknologi pengolahan limbah domestik, namun belum ada yang benar-benar memberikan solusi permanen.

Bupati Syarif menetapkan target bahwa pada 2020 Desa Torosiaje yang terdiri atas 480 kepala keluarga dengan 350 rumah telah memiliki fasilitas jamban yang memadai.

Teknologi dari BPPT tersebut diharapkan membantu Desa Torosiaje menjadi tujuan wisata yang semakin menarik baik bagi wisatawan nusantara maupun asing.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here