Teknologi ‘Organic Rankine Cycle’ ubah panas buangan dari jadi energi listrik

Ilustrasi. (Matthew Henry on Unsplash)

Teknologi Organic Rankine Cycle memanfaatkan sumber panas bersuhu menengah hingga rendah, yang berasal dari pembakaran sampah, panas bumi, serta panas buangan industri semen, kaca, dan pupuk.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Pusat Riset Teknologi Manufaktur Mesin Produksi pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi Organic Rankine Cycle (ORC) untuk mengubah panas buangan dari sampah, panas bumi, dan industri menjadi energi listrik.

Perekayasa BRIN, Rudias Harmadi, menjelaskan bahwa ORC merupakan teknologi pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber panas bersuhu menengah hingga rendah. Sumber panas tersebut antara lain berasal dari pembakaran sampah, panas bumi, serta panas buangan industri semen, kaca, dan pupuk.

“Teknologi ORC memanfaatkan panas yang sebelumnya terbuang menjadi energi listrik melalui penggunaan fluida kerja, seperti refrigeran, hidrokarbon, atau amonia,” ujarnya dalam BRIN Enviro Talk ke-55 bertema ‘Ekspose BRIN: Hasil Kaji Terap Teknologi Pengelolaan Sampah Perkotaan,’ yang dilaksanakan secara daring, Jumat (22/5), dikutip dari situs jejaring BRIN, pada Ahad.

Rudias menjelaskan bahwa prinsip kerja ORC mirip dengan pembangkit listrik tenaga uap, tetapi menggunakan fluida kerja selain air. Panas dari sumber energi digunakan untuk memanaskan thermal oil, kemudian menguapkan fluida kerja yang menggerakkan turbin dan generator untuk menghasilkan listrik.

Pemilihan fluida kerja bergantung pada karakteristik sumber panas yang digunakan. Pada sistem berbasis pembakaran sampah, diperlukan fluida yang aman serta tahan terhadap risiko kebakaran dan korosi.

Teknologi ORC telah banyak diterapkan di berbagai negara untuk waste to energy, panas bumi, biomassa, dan pemanfaatan panas buangan industri, dengan kapasitas mulai dari skala kecil hingga puluhan megawatt.

Di Indonesia, BRIN telah mengembangkan ORC 100 kW di PLTP Star Energy Wayang Windu (Bandung, Jawa Barat) dan ORC 500 kW di PGE Lahendong (Kota Tomohon, Sulawesi Utara) yang memanfaatkan panas bumi.

Selain itu, BRIN juga mengembangkan riset ORC berbasis pembakaran sampah melalui kolaborasi dengan industri pengolah sampah Bumiresik.

Dalam proyek tersebut, panas dari rotary kiln dan incinerator dimanfaatkan untuk memanaskan thermal oil sebelum digunakan dalam sistem pembangkit ORC. Thermal oil digunakan karena gas hasil pembakaran sampah bersifat kotor dan korosif sehingga tidak dapat langsung dialirkan ke sistem penukar panas.

Rudias menjelaskan, pengembangan teknologi ORC juga mendorong penguatan industri nasional karena berbagai komponen utama, seperti kondensor, cooling tower, turbin, dan generator, telah diproduksi oleh industri dalam negeri.

“Riset ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem industri nasional yang mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Ario Betha Juanssilfero, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beragam teknologi pengelolaan sampah, seperti biogas, refuse derived fuel (RDF), pirolisis plastik, landfill mining, biodrying, pemanfaatan gas metana TPA, serta pengolahan sampah organik.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait