
Terobosan dalam teknologi katalis China mungkinkan produksi hidrogen yang lebih tahan lama

Sejumlah ilmuwan mengerjakan metode produksi hidrogen baru di sebuah laboratorium di Beijing, ibu kota China, pada 13 Februari 2025. (Xinhua)
Teknologi katalis baru dapat secara signifikan memperpanjang masa pakai dan efisiensi produksi hidrogen, membuka jalan bagi aplikasi skala besar yang berbiaya rendah.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah peneliti berhasil mengembangkan teknologi katalis yang dapat secara signifikan memperpanjang masa pakai dan efisiensi produksi hidrogen, membuka jalan bagi aplikasi skala besar yang berbiaya rendah.Tim peneliti gabungan dari Universitas Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Universitas Peking mengaplikasikan lapisan pelindung khusus pada permukaan katalis berbasis platinum, yang memungkinkannya untuk beroperasi secara terus-menerus selama lebih dari 1.000 jam dalam reaksi produksi hidrogen. Kemajuan ini menjadi langkah besar untuk mewujudkan produksi hidrogen skala besar yang berbiaya rendah.Meskipun katalis yang sangat aktif dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi reaksi, katalis ini sering kali mengalami deaktivasi dengan cepat karena keruntuhan struktural dan hilangnya komponen aktif. "Tantangan utamanya adalah meningkatkan stabilitas katalis tanpa mengorbankan aktivitasnya," kata Zhou Wu, seorang profesor dari Universitas CAS, seperti yang dilaporkan oleh surat kabar Science and Technology Daily pada Senin (17/2).Para peneliti merekayasa "perisai pelindung" berskala nano dengan membuat lapisan nano oksida tanah jarang pada permukaan katalis. Struktur inovatif ini secara selektif menutupi situs redundan pada permukaan pembawa, memberikan perlindungan yang tepat pada antarmuka katalis yang krusial.Data eksperimen menunjukkan bahwa dalam reaksi reformasi metanol-air untuk produksi hidrogen, katalis baru ini mempertahankan operasi yang stabil selama lebih dari 1.000 jam. Yang lebih mengesankan lagi, katalis ini menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi, dengan jumlah konversi yang dilakukan melampaui angka 15 juta.Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature ini tidak hanya menjawab tantangan ilmiah yang krusial, tetapi juga membuka peluang baru untuk produksi hidrogen, sumber energi bersih yang sangat penting untuk memerangi perubahan iklim, yang berkelanjutan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Vaksin ‘booster’ Sinovac tingkatkan antibodi 7 kali lipat
Indonesia
•
11 Aug 2021

Wahana penambangan tugas berat laut dalam China capai rekor kedalaman pada uji coba di laut
Indonesia
•
11 Jul 2024

Gara-gara kucing, Percy temukan inovasi yang 'menyelamatkan' jiwa
Indonesia
•
15 Feb 2026

Studi jelaskan mengapa penguin yang terancam punah korbankan telur pertama dan erami telur kedua
Indonesia
•
13 Oct 2022


Berita Terbaru

Feature – Bayi panda raksasa Rio siap diperkenalkan ke publik mulai akhir Mei
Indonesia
•
24 May 2026

Kaya umbi-umbian, masyarakat Indonesia bisa nikmati mi non-terigu yang sehat
Indonesia
•
24 May 2026

Peneliti Indonesia kembangkan kapal listrik pengangkut sampah untuk kawasan mangrove
Indonesia
•
24 May 2026

Teknologi ‘Organic Rankine Cycle’ ubah panas buangan dari jadi energi listrik
Indonesia
•
24 May 2026
