Banner

China dan negara-negara Arab perdalam kerja sama di bidang teknologi

‘Al Rihla’, bola resmi Piala Dunia Qatar 2022, terlihat di lapangan di Doha, Qatar, pada 30 November 2022. Menurut pernyataan FIFA, sebuah sensor yang disematkan di tengah ‘Al Rihla’ mengirimkan data 500 kali per detik, memungkinkan pendeteksian titik tendangan yang sangat presisi sehingga wasit bisa membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih akurat saat situasi offside. (Xinhua/Xu Zijian)

Teknologi irigasi cerdas yang dikembangkan oleh Universitas Ningxia, China barat laut, diterapkan untuk merawat rumput lapangan sepak bola di stadion-stadion Piala Dunia 2022 di Qatar.

 

Yinchuan, China (Xinhua) – Di sebuah bar di Yinchuan, ibu kota Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut, para suporter sepak bola menyaksikan salah satu pertandingan mendebarkan dari Piala Dunia FIFA 2022.

Banner

Hal yang tidak di ketahui oleh sebagian besar dari mereka adalah bahwa daerah mereka memiliki andil dalam menyukseskan turnamen tersebut, dengan rumput lapangan sepak bola di stadion-stadion Piala Dunia Qatar dirawat menggunakan teknologi irigasi yang dikembangkan oleh Universitas Ningxia.

Tidak seperti teknologi irigasi tetes atau irigasi curah biasa, teknologi itu menggunakan pipa air bawah tanah untuk merembeskan air secara merata dan mengalirkan air tepat ke akar rumput.

Selain itu, teknologi irigasi tersebut menggunakan tenaga angin dan matahari guna menghasilkan listrik dan mengalirkan air, serta menggunakan Internet of Things (IoT) untuk pengontrolan cerdas dari seluruh proses pengairan.

Banner

“Metode irigasi ini lebih hemat air dan tahan lama, dan kami memakai infiltrasi bawah tanah agar lebih cerdas dan efisien,” kata Sun Zhaojun, seorang peneliti dari Universitas Ningxia.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem dan teknologi irigasi cerdas dan hemat air yang dikembangkan oleh Universitas Ningxia itu telah bertransformasi dan diterapkan di beberapa negara Arab, termasuk Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab, menurut universitas tersebut.

Menurut Sun, Pusat Transfer Teknologi China dan Negara-Negara Arab (China-Arab States Technology Transfer Center), yang didirikan pada 2015 di Ningxia, merupakan salah satu alasan utama mengapa teknologi ini mendunia.

Banner

“Pusat tersebut mendirikan beberapa subpusat dan platform kerja sama untuk kerja sama China-Arab, yang kondusif untuk transfer dan penerapan teknologi,” kata Sun.

Sejak 2016, sebuah proyek yang berfokus pada transfer teknologi serta kerja sama ilmiah dan teknologi antara China dan negara-negara Arab dikelola oleh pusat tersebut.

“Sejumlah program kerja sama telah dilakukan di sejumlah bidang, seperti pembayaran elektronik lintas batas, teknologi irigasi cerdas dan hemat air, serta satelit penginderaan jarak jauh,” kata Huang Ying, selaku direktur pusat tersebut.

Banner

Selain itu, sejumlah laboratorium gabungan internasional dan pusat demonstrasi teknologi yang dapat diterapkan telah didirikan di berbagai negara, termasuk Oman dan Mesir, imbuh Huang.

Selama bertahun-tahun, China dan negara-negara Arab bergandengan tangan dalam mengejar pembangunan bersama yang produktif melalui kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai bidang.

Pada 2021, perdagangan antara China dan negara-negara Arab mencapai 330,3 miliar dolar AS, melonjak 150 persen dibandingkan dengan yang tercatat 10 tahun silam. Pada tiga kuartal pertama 2022, perdagangan China-Arab mencapai 319,3 miliar dolar AS, naik 35,28 persen secara tahunan (year-on-year), menurut data resmi.

Banner

*1 dolar AS = 15.587 rupiah

Laporan: Redaksi

Banner

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan