
Teknologi AI ini bisa menemukan sirip hiu dan kuda laut selundupan dalam koper

Ilustrasi. (unsplash.com)
Perdagangan ilegal spesies laut lebih sulit dideteksi karena barang-barang tersebut sering disembunyikan di dalam bagasi atau paket milik penumpang umum.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Peneliti di Australia mengembangkan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu mendeteksi produk satwa liar laut selundupan, termasuk sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang, dalam pemindaian bagasi bandara.
Penelitian ini menggunakan pemindai CT sinar-X tiga dimensi (3D) bandara yang sudah ada dan model jaringan saraf untuk mengidentifikasi barang selundupan yang disembunyikan dalam bagasi dengan akurasi 92 persen, menurut siaran pers dari jurnal Frontiers in Ocean Sustainability, yang menerbitkan penelitian tersebut pada Senin (8/6).
Perdagangan ilegal satwa liar laut, yang diperkirakan menghasilkan miliaran dolar setiap tahunnya, merupakan ancaman besar bagi ekosistem laut. Berbeda dengan kejahatan perdagangan satwa liar yang lebih dikenal luas, seperti perdagangan gading atau cula badak, perdagangan ilegal spesies laut lebih sulit dideteksi karena barang-barang tersebut sering disembunyikan di dalam bagasi atau paket milik penumpang umum, ungkap siaran pers.
Untuk melatih algoritma tersebut, tim yang dipimpin para ilmuwan dari Universitas Macquarie Australia melakukan hampir 300 pemindaian menggunakan sampel sitaan kasus perdagangan ilegal satwa liar laut, menyimulasikan berbagai modus yang biasa digunakan penyelundup serta kondisi nyata di lapangan, seperti membungkus barang dengan aluminium foil atau pakaian, maupun menyembunyikannya di dalam mainan.
Sistem tersebut mampu mencapai tingkat deteksi sebesar 95 persen untuk sirip hiu, 96 persen untuk kuda laut, dan 86 persen untuk teripang, kata para peneliti.
Mereka mengatakan teknologi tersebut dapat mendukung upaya penegakan hukum di perbatasan, namun menegaskan bahwa teknologi itu dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan, metode deteksi yang sudah ada. Para peneliti juga menyebut sejumlah keterbatasan, termasuk kemungkinan munculnya positif palsu (false positive) serta belum meratanya akses terhadap pemindai 3D canggih.
"Kami hanya dapat menyimulasikan skenario penyelundupan di dunia nyata berdasarkan kasus-kasus yang telah terdeteksi sebelumnya. AI bukanlah solusi ajaib untuk deteksi, dan juga bukan pengganti bagi metode deteksi manusia dan anjing pelacak," kata Vanessa Pirotta dari Universitas Macquarie, penulis utama penelitian tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Moskow beri waktu 2 pekan kepada dubes Latvia untuk tinggalkan Rusia
Indonesia
•
28 Jan 2023

Tak hiraukan serangan udara AS-Inggris, Houthi Yaman bersumpah tingkatkan serangan pada Israel
Indonesia
•
14 Jan 2024

Rusia: NATO harus gelar pertemuan darurat tentang ledakan Nord Stream
Indonesia
•
12 Feb 2023

Fakta konflik Rusia-Ukraina: Infrastruktur sipil rusak usai Rusia bombardir Kherson
Indonesia
•
27 Dec 2022


Berita Terbaru

Mengapa harga barang terus naik? Analis soroti dampak 100 hari konflik Iran-AS
Indonesia
•
08 Jun 2026

Trump desak Iran hentikan serangan rudal ke Israel dan kembali ke meja perundingan
Indonesia
•
08 Jun 2026

Iran raup 36 miliar rupiah per kapal yang melintasi Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jun 2026

Presiden Xi sebut hubungan China-RRDK hadapi peluang dan misi baru
Indonesia
•
08 Jun 2026
