
Studi sebut panel surya pada dinding bangunan bisa pasok listrik kota dan pangkas emisi

Panel surya di atap bangunan terlihat di Wilayah Otonom Etnis Tu Huzhu, Provinsi Qinghai, China barat laut, pada 8 Agustus 2025. (Xinhua)
Pemasangan panel surya pada dinding luar bangunan dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar, sekaligus menurunkan biaya pendinginan ruangan dan mengurangi emisi karbon.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah studi baru yang dilakukan oleh tim ilmuwan China menunjukkan bahwa pemasangan panel surya pada dinding luar bangunan dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar, sekaligus menurunkan biaya pendinginan ruangan dan mengurangi emisi karbon.
Upaya penelitian ini, yang dipimpin oleh peneliti dari Institut Ilmu Geografi dan Penelitian Sumber Daya Alam (Institute of Geographic Sciences and Natural Resources Research/IGSNRR) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), telah diterbitkan pada Jumat (27/3) dalam jurnal Nature Climate Change.
Saat ini, sebagian besar panel surya dipasang di atas atap. Namun, bangunan memiliki permukaan vertikal luas yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk produksi energi. Studi tersebut mengkaji apa yang akan terjadi jika dinding-dinding bangunan juga dilapisi dengan panel surya, sebuah konsep yang dikenal sebagai fotovoltaik fasad terpadu (facade-integrated photovoltaics/FIPV).
Menggunakan data geometri bangunan, karakteristik, dan kondisi cuaca di seluruh dunia, para peneliti membuat sebuah model untuk mengestimasi berapa banyak listrik yang dapat dihasilkan oleh FIPV. Mereka juga mengkaji bagaimana panel-panel tersebut memengaruhi kebutuhan pemanasan dan pendinginan di dalam bangunan, mengingat panel surya dapat memberikan naungan dan mengurangi penyerapan panas.
Berdasarkan skenario penerapan yang paling masuk akal, tim peneliti menemukan bahwa FIPV dapat menghasilkan sekitar 732,5 terawatt-jam listrik per tahun secara global, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik jutaan rumah. Di saat yang sama, panel-panel tersebut akan mengurangi permintaan listrik bangunan rata-rata sebesar 8,1 persen, terutama dengan memangkas kebutuhan untuk pendingin ruangan. Para peneliti menyebutkan bahwa manfaat gabungan ini akan menghasilkan keuntungan ekonomi dan dampak positif bagi iklim yang signifikan. Studi tersebut mengestimasi bahwa jika FIPV mencapai potensi penuhnya pada pertengahan abad ini, emisi karbon kumulatif dapat berkurang 37,7 gigaton.
Namun, para peneliti menyampaikan bahwa untuk mewujudkan manfaat-manfaat tersebut, diperlukan kebijakan yang tertarget, perencanaan yang cermat, serta strategi yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
"Karena perubahan iklim memicu panas yang lebih ekstrem dan peningkatan permintaan energi di perkotaan, studi ini menyoroti peluang yang selama ini terabaikan untuk membuat bangunan-bangunan menjadi lebih hemat energi sekaligus tangguh terhadap perubahan iklim," ujar Yao Ling, seorang profesor dari IGSNRR.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China temukan spesies baru dinosaurus berbulu
Indonesia
•
18 Jun 2026

Feature – Mengapa Indonesia tak pernah menemukan dinosaurus? Pameran ini ungkap alasannya
Indonesia
•
26 Jul 2026

Cekungan Sungai Haihe di China dilanda banjir terparah sejak 1963
Indonesia
•
06 Aug 2023

Percetakan Al-Qur'an King Fahd Saudi luncurkan aplikasi Warsh Qur'an
Indonesia
•
16 Dec 2021


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
