
Teleskop antariksa SPHEREx milik NASA mulai pemetaan seluruh langit

Foto yang diunggah pada 29 Agustus 2024 ini menunjukkan pesawat luar angkasa Boeing Starliner melakukan penambatan (docking) ke porta depan modul Harmony di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). (Sumber: NASA)
SPHEREx akan memetakan posisi ratusan juta galaksi dalam tiga dimensi. Tujuannya adalah untuk menjawab beberapa pertanyaan paling dasar dalam kosmologi, seperti bagaimana alam semesta bermula dan bagaimana struktur skala besarnya berevolusi.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – NASA pada Kamis (1/5) mengumumkan bahwa observatorium antariksanya, SPHEREx, secara resmi telah memulai serangkaian operasi ilmiah, yang menandai langkah besar untuk mengungkap wawasan baru tentang asal-usul alam semesta, evolusi galaksi, dan komponen dasar kehidupan di Galaksi Bima Sakti.Selama dua tahun ke depan, SPHEREx akan mengambil sekitar 3.600 gambar per hari saat melakukan survei sistematis terhadap seluruh langit.Diluncurkan pada 11 Maret lalu, SPHEREx telah menghabiskan enam pekan terakhir untuk menjalani pemeriksaan, kalibrasi, dan berbagai aktivitas lainnya guna memastikan teleskop antariksa tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, menurut NASA.Dengan serangkaian operasi ilmiah yang sedang berlangsung, SPHEREx akan memetakan posisi ratusan juta galaksi dalam tiga dimensi. Tujuannya adalah untuk menjawab beberapa pertanyaan paling dasar dalam kosmologi, seperti bagaimana alam semesta bermula dan bagaimana struktur skala besarnya berevolusi."Observatorium baru ini menambah rangkaian misi survei astrofisika berbasis antariksa menjelang peluncuran Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman milik NASA. Bersama dengan misi-misi lainnya, SPHEREx akan memainkan peran penting dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang alam semesta yang kami kerjakan di NASA setiap hari," ujar Shawn Domagal-Goldman, pelaksana tugas direktur Divisi Astrofisika di kantor pusat NASA di Washington.Observatorium tersebut akan menyelesaikan lebih dari 11.000 orbit selama 25 bulan operasi survei yang telah direncanakan, dengan mengelilingi Bumi sekitar 14,5 kali per hari, menurut NASA.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China temukan gen kunci untuk modifikasi hasil panen dan kualitas serat kapas
Indonesia
•
07 Jan 2024

China dorong inovasi wahana antariksa kargo demi pangkas biaya logistik stasiun luar angkasa
Indonesia
•
11 Nov 2024

Apple akan gelar Worldwide Developers Conference pada Juni 2023
Indonesia
•
31 Mar 2023

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
