
Sejumlah negara Eropa desak UE bertindak lebih tegas terhadap Israel

Warga Palestina berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa di Lapangan Manger di Kota Betlehem, Tepi Barat, pada 26 Juli 2025, untuk menentang perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan kebijakan kelaparan yang diberlakukan terhadap warga Gaza. (Xinhua/Mamoun Wazwaz)
Slovenia mengakui Negara Palestina, dan pada Juli tahun ini, negara Eropa tersebut melarang impor produk dari permukiman Israel, serta membatasi ekspor, impor, dan transit senjata ke dan dari Israel.
Den Haag/Ljubljana, Belanda/Slovenia (Xinhua/Indonesia Window) – Negara-negara Eropa termasuk Belanda, Swedia, dan Slovenia telah meminta Uni Eropa (UE) untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel dan mengambil tindakan lebih tegas terkait situasi Gaza.Mengutip krisis kemanusiaan yang "tidak bisa ditoleransi" di Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat, Belanda dan Swedia mendesak negara-negara anggota UE lainnya untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel.Dalam surat tertanggal 27 Agustus kepada kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas, Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda Ruben Brekelmans dan Menlu Swedia Maria Malmer Stenergard mengatakan "perlu dilakukan lebih banyak upaya untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah Israel agar mengubah arah kebijakannya dan memenuhi kewajibannya sesuai hukum internasional."Para menteri mengusulkan sanksi terhadap para pemukim yang melakukan kekerasan di Tepi Barat dan "sejumlah menteri Israel ekstremis" yang "mempromosikan kegiatan permukiman ilegal, dan secara aktif menentang solusi dua negara yang dinegosiasikan.""Situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan dan tidak bisa ditoleransi. Penderitaan warga sipil tak terbayangkan," demikian isi surat tersebut, seraya menambahkan bahwa penyaluran bantuan harus diizinkan di seluruh Gaza.Surat itu juga mengutip keputusan Israel pada 8 Agustus untuk memperluas serangan militernya di Gaza, seraya memperingatkan bahwa hal ini dapat menyebabkan "pemindahan besar-besaran warga sipil ke daerah-daerah kantong yang semakin kecil."Pada Kamis (28/8), Perdana Menteri (PM) Slovenia Robert Golob mengatakan Eropa berisiko kehilangan pengaruh global jika gagal menyesuaikan pendekatannya.Menlu Slovenia Tanja Fajon menggambarkan konflik di Gaza sebagai genosida, menekankan bahwa masalah yang belum terselesaikan hanya akan kembali "dalam bentuk yang lebih berdarah".Pada Juni 2024, Slovenia mengakui Negara Palestina. Pada Juli tahun ini, Slovenia melarang impor produk dari permukiman Israel, serta membatasi ekspor, impor, dan transit senjata ke dan dari Israel.Sementara itu, Slovenia menyatakan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich sebagai personae non gratae (orang yang tidak diinginkan), dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Palestina.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

KTT Arab-Islam kecam serangan Israel ke Qatar dan nyatakan solidaritas penuh
Indonesia
•
17 Sep 2025

AS: Rusia mungkin tertarik lanjutkan pembicaraan kesepakatan biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
02 Aug 2023

Trump sebut Israel setujui rencana baru untuk penyelesaian konflik di Gaza
Indonesia
•
30 Sep 2025

Gara-gara Bluetooth penumpang, penerbangan United Airlines tujuan Spanyol terpaksa putar balik
Indonesia
•
01 Jun 2026


Berita Terbaru

Perang Iran kuras keuangan AS 663 triliun rupiah, AS kini hadapi kekurangan amunisi canggih
Indonesia
•
15 Sep 2026

Trump klaim Iran terus minta kesepakatan, perang diprediksi berakhir tahun ini
Indonesia
•
14 Sep 2026

Lebih dari 500 tentara tewas dan 1.500 luka, serangan Houthi ubah peta perang Yaman
Indonesia
•
14 Sep 2026

Opini – Memulihkan kepercayaan: Tempat yang layak bagi Taiwan di dunia bebas
Indonesia
•
15 Sep 2026
