
Perjanjian pengurangan senjata nuklir Rusia dan AS berakhir, perdamaian dunia terancam

Foto yang diabadikan pada 10 Maret 2022 ini memperlihatkan Kremlin di Moskow, Rusia. (Xinhua/Bai Xueqi)
Perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia berakhir pada 5 Februari 2026, menandai momen yang berbahaya bagi perdamaian dan keamanan internasional.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Rabu (4/2) memperingatkan bahwa berakhirnya New START, perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, menandai momen yang berbahaya bagi perdamaian dan keamanan internasional.
"Untuk pertama kalinya dalam kurun lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan mengikat apa pun terhadap persenjataan nuklir strategis Federasi Rusia dan AS, dua negara yang memiliki sebagian besar persediaan senjata nuklir global," ujar Guterres dalam sebuah pernyataan.
New START, perjanjian yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir dan sistem pengiriman strategis yang dikerahkan Rusia dan AS, telah berakhir pada Kamis (5/2).
Sepanjang Perang Dingin dan masa setelahnya, pengendalian senjata nuklir antara kedua negara itu membantu mencegah bencana. Perjanjian tersebut membangun stabilitas dan, jika dipadukan dengan langkah-langkah lain, mencegah miskalkulasi yang menghancurkan. Dan yang paling penting, perjanjian tersebut memfasilitasi pengurangan ribuan senjata nuklir dari gudang senjata nasional. Pengendalian senjata strategis secara drastis meningkatkan keamanan semua orang, tak terkecuali penduduk AS dan Rusia, kata Guterres.
Berakhirnya New START terjadi pada saat yang sangat tidak tepat, mengingat risiko penggunaan senjata nuklir sedang berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dasawarsa terakhir, tuturnya.
"Namun di tengah ketidakpastian saat ini, kita harus mencari harapan. Ini adalah kesempatan untuk melakukan pengaturan ulang dan menciptakan sebuah rezim pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berubah dengan cepat," ujar Guterres. "Saya senang presiden kedua negara telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka memahami dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir dan perlunya mencegah dunia kembali pada proliferasi nuklir yang tidak terkendali. Dunia saat ini berharap Federasi Rusia dan AS dapat mewujudkan kata-kata menjadi tindakan nyata."
Guterres mendesak kedua negara untuk kembali ke meja perundingan tanpa penundaan dan menyepakati sebuah kerangka kerja pengganti yang memulihkan batas-batas terverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan global bersama.
New START, yang mulai berlaku pada 2011, merupakan perjanjian pengendalian senjata terakhir antara Rusia dan AS setelah Washington menarik diri dari Perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) pada 2019.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Diriyah diharapkan jadi situs budaya terbesar dunia
Indonesia
•
20 Nov 2019

China kecam kolusi terang-terangan pejabat AS dengan perusuh anti-China
Indonesia
•
07 Feb 2024

China Eastern Airlines bawa 132 orang jatuh di Cina selatan
Indonesia
•
22 Mar 2022

Hamas buktikan komitmennya pada gencatan senjata, pulangkan jenazah sandera Israel
Indonesia
•
27 Jan 2026


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
