
Jerman jajaki sumber energi baru di Namibia dan Afrika Selatan

Foto dari udara yang diabadikan pada 8 Desember 2021 ini menunjukkan sebuah pembangkit listrik tenaga panas surya garam cair di Kota Yumen, Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua/Fan Peishen)
Skeleton Coast Namibia di Samudra Atlantik sangat ideal untuk produksi hidrogen hijau karena kelimpahan matahari dan angin, menjadi sasaran dari misi pemerintah Jerman yang lebih luas untuk membangun aliansi energi baru di luar negeri setelah Rusia menghentikan pasokan gasnya pada bulan September lalu.
Jakarta (Indonesia Window) – Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck memulai perjalanan lima hari ke Namibia dan Afrika Selatan pada Ahad (4/12), sebagai bagian dari dorongan untuk mengamankan sumber energi baru bagi perekonomian terbesar Eropa itu guna mengompensasi pemutusan pasokan gas Rusia.Selama perhentian pertamanya di ibu kota Namibia, Windhoek, Habeck, yang akan didampingi oleh anggota delegasi yang terdiri atas 24 pemimpin bisnis Jerman, akan menandatangani perjanjian tentang produksi hidrogen hijau.“Namibia memiliki keunggulan yang sangat besar dalam hal lokasi dibandingkan dengan Eropa,” kata Habeck kepada wartawan sebelum terbang meninggalkan Berlin. Skeleton Coast Namibia di Samudra Atlantik sangat ideal untuk produksi hidrogen hijau karena kelimpahan matahari dan angin, tambahnya.RWE Jerman dan konsorsium Hyphen Hydrogen Energy baru-baru ini menandatangani sebuah memorandum yang dapat membuat RWE mengambil hingga 300.000 ton amonia hijau per tahun, yakni turunan hidrogen yang sangat cocok untuk diangkut dengan kapal.Akhir pekan ini, Habeck akan menghadiri KTT Bisnis Jerman-Afrika di Johannesburg bersama dengan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, yang tengah mendapat tekanan politik menyusul tuduhan korupsi.Kunjungan Habeck ke Afrika adalah bagian dari misi pemerintah Jerman yang lebih luas untuk membangun aliansi energi baru di luar negeri setelah Rusia menghentikan pasokan gasnya pada bulan September. Habeck juga baru-baru ini melakukan perjalanan ke Kanada, Qatar, dan Norwegia dalam upaya mengamankan sumber daya LNG.“Transisi energi hijau, keamanan pasokan, dan rantai nilai yang andal juga menjadi isu utama di Afrika,” menurut Fausi Najjar di Germany Trade & Invest, lembaga pemerintah yang mempromosikan perusahaan Jerman di luar negeri.“Secara khusus, keinginan untuk rantai pasokan yang lebih beragam mengarah pada minat yang lebih besar dari perusahaan Jerman di pasar Afrika,” tambah Najjar.Lebih dari 400 perusahaan Jerman, termasuk di sektor otomotif, teknologi medis, dan energi, beroperasi di Afrika Selatan dan mempekerjakan lebih dari 65.000 orang, menurut angka GTAI. Bagian Afrika Selatan dari total perdagangan luar negeri Jerman dengan Afrika lebih dari 40 persen.Sumber: Bloomberg; Al Arabiya EnglishLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Microsoft akan investasikan 3,2 miliar euro untuk infrastruktur AI di Jerman
Indonesia
•
16 Feb 2024

BBM naik, biaya harian mobil ‘hybrid’ China bisa kurang dari Rp14 ribu
Indonesia
•
20 Jun 2026

Resesi global mungkin terjadi saat suku bunga naik serentak di seluruh dunia
Indonesia
•
16 Sep 2022

PBB sebut Amerika Latin akan catat pertumbuhan ekonomi yang rendah pada 2022
Indonesia
•
24 Aug 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
