Siswa Malaysia raih penghargaan internasional untuk penemuan pakan ternak berkelanjutan

YAM 2.0, pakan ternak berkelanjutan yang terbuat dari sisa kulit udang giling dan cangkang siput laut. (Muzamir Hasan/SAYS)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Maryam Muzamir yang kini 11 tahun asal Kuantan, Malaysia berhasil memformulasikan pakan ternak yang terbuat dari sisa kulit udang giling dan cangkang siput laut, dengan nama produk YAM 2.0.

Dengan penemuannya itu, Maryam menyabet tiga penghargaan bergengsi di Kompetisi Inovasi Penemuan Internasional (iCAN) 2021 yang baru saja diadakan di Toronto, Kanada.

Sebelumnya, Maryam telah memenangkan banyak penghargaan lokal untuk produknya tersebut. Ayahnya, lalu meyakinkannya untuk membawa penemuan ini ke panggung dunia.

Atas usahanya, ia membawa pulang medali emas, Penghargaan Khusus Kanada, serta Penghargaan Penemu Muda Terbaik yang paling diincar oleh 600 peserta iCAN 2021 dari lebih 70 negara.

Maryam tidak hanya meraih tiga penghargaan sekaligus, namun juga merupakan pemenang termuda dalam kompetisi internasional itu.

Awal

Gagasan membuat pakan ternak berkelanjutan berawal saat Maryam dan keluarganya berkunjung ke restoran makanan laut yang berjajar di tepi pantai di Kuantan.

Di sana, gadis berkerudung ini mengamati banyaknya limbah, terutama cangkang, yang dihasilkan dari sejumlah restoran.

Terinspirasi oleh aktivis iklim Greta Thunberg dari Swedia, Maryam ingin menangani 15.000 ton limbah makanan yang dilaporkan setiap hari diproduksi secara nasional di Malaysia.

Setelah menemukan sebuah artikel yang mengatakan bahwa kerang laut mengandung senyawa kitin yang bermanfaat bagi ternak, dia mulai menjalankan penelitiannya.

Selain itu, Maryam juga melihat celah dalam rantai pasokan ternak yang perlu ditangani, apalagi dengan meningkatnya harga daging dalam beberapa tahun terakhir.

Faktor utama yang menyebabkan kenaikan tersebut adalah harga pakan ternak yang tidak stabil, khususnya pakan jagung berkualitas tinggi yang harganya sangat mahal.

Selama melakukan penelitian, Maryam ditemani oleh ayahnya, Dr. Muzamir Hasan.

“Berdasarkan pengamatan kami, biaya produksi YAM 2.0 lebih murah dibandingkan produk pakan ternak konvensional, dan bisa digunakan untuk pakan ayam, kambing, ikan, bahkan babi,” kata Muzamir, seraya menambahkan bahwa YAM 2.0 berasal dari kata yummy yang berarti enak, yang mencerminkan sang inventor muda.

“Karena produk ini hemat biaya, ini akan membantu mengendalikan biaya produksi dalam rantai pasokan. YAM 2.0 adalah solusi yang terjangkau dan berkualitas tinggi,” lanjutnya.

Muzamir mengatakan mereka berniat untuk membawa produk pakan berkelanjutan ini ke pasar.

Uji lapangan awal mereka terbukti menjanjikan. Setelah memperoleh dan mensintesis sejumlah besar cangkang yang dibuang dari operator restoran, mereka membawa produk purwarupa ke peternakan sapi perah terdekat.

Mereka menemukan bahwa susu yang dihasilkan oleh sapi yang mengonsumsi YAM 2.0 memiliki kualitas yang sama dibandingkan yang diberi pakan konvensional yang lebih mahal.

“Kami tidak ingin dia berhenti dan mungkin langkah selanjutnya adalah mendapatkan hibah penelitian untuk mengkomersialkan produk,” ujar Muzamir.

Prestasi Maryam tersebut juga disebut oleh pembawa acara James Corden pada talk show terkenal The Late Late Show.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan